Sumenep, Salam News. Id – Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar Kabupaten Sumenep, Hairil Fajar, mengingatkan pelaku usaha agar mengajukan permodalan secara terukur dan berbasis data. Ia menegaskan, pengajuan pembiayaan ke perbankan, terutama menjelang Ramadhan, tidak boleh dilakukan hanya karena asumsi tingginya konsumsi masyarakat.
Menurutnya, setiap tambahan modal harus dihitung berdasarkan catatan omzet dan permintaan riil pada periode Ramadhan tahun-tahun sebelumnya secara akurat. Pendekatan berbasis data dinilai lebih aman dibandingkan keputusan impulsif yang hanya mengandalkan perkiraan lonjakan pembeli selama bulan puasa.
Hairil Fajar mencontohkan pedagang pakaian yang dapat mengevaluasi omzet Ramadhan tahun lalu sebagai dasar menentukan kebutuhan modal tambahan. Begitu pula pelaku usaha rumahan seperti pembuat kue dan makanan berbuka, dapat menghitung permintaan rutin pelanggan secara rasional.

Ia menilai, pola konsumsi masyarakat saat Ramadhan memang meningkat, tetapi tetap memiliki tren yang dapat dipetakan secara historis. Dengan memahami tren tersebut, pelaku usaha bisa menghindari risiko kelebihan stok atau beban pembiayaan yang tidak seimbang.
Ramadhan disebutnya sebagai momentum meningkatnya produktivitas sekaligus percepatan perputaran ekonomi di berbagai sektor usaha masyarakat. Permintaan pasar yang melonjak seringkali mendorong pelaku usaha mencari tambahan modal guna memenuhi kebutuhan produksi dan distribusi.
Namun, ia mengingatkan agar lonjakan tersebut tidak membuat pelaku usaha lengah dalam mengelola arus kas. Pendapatan yang meningkat sementara tidak selalu menjamin stabilitas keuangan jika tidak diimbangi pengendalian biaya operasional.
Menurutnya, perencanaan keuangan menjadi kunci utama agar momentum Ramadhan benar-benar memberikan keuntungan berkelanjutan bagi usaha. Ia menekankan pentingnya menghitung kemampuan bayar sebelum memutuskan mengambil pembiayaan dari lembaga perbankan.
Pengusaha perlu mempertimbangkan siklus usaha setelah Ramadhan, ketika permintaan biasanya kembali ke kondisi normal. Tanpa perhitungan matang, tambahan pembiayaan justru berpotensi menjadi beban ketika penjualan mulai menurun pascalebaran.
Selain soal modal usaha, Hairil Fajar juga menawarkan solusi pengelolaan kewajiban perusahaan terhadap tenaga kerja. Ia menyasar pelaku usaha dengan jumlah karyawan antara sepuluh hingga dua puluh orang di berbagai sektor.
Sektor tersebut meliputi perdagangan, industri rumahan, jasa angkutan, maupun bidang usaha lain yang memiliki pekerja tetap. Menurutnya, kewajiban pembayaran Tunjangan Hari Raya harus dipersiapkan jauh hari agar tidak mengganggu likuiditas usaha.
BPRS Bhakti Sumekar menyediakan produk Tabungan Hari Raya sebagai instrumen perencanaan dana pembayaran THR karyawan. Melalui tabungan tersebut, pengusaha dapat menyisihkan dana setiap bulan secara konsisten dan terencana.
Ia menegaskan, THR merupakan kewajiban yang diatur ketentuan perundang-undangan dan harus dipenuhi tepat waktu. Karena itu, pencadangan dana secara berkala dinilai lebih ringan dibandingkan menyiapkan dana sekaligus menjelang Lebaran.
Sebagai ilustrasi, pengusaha dengan sepuluh karyawan bergaji Rp2.500.000 dapat mencadangkan sekitar Rp215.000 per bulan. Dana tersebut dihimpun selama setahun sehingga ketika hari raya tiba, perusahaan sudah memiliki alokasi khusus THR.
Skema itu membantu menjaga stabilitas arus kas dan mencegah tekanan finansial mendadak pada usaha. Dengan adanya tabungan khusus, pengusaha tidak perlu mencari pinjaman tambahan hanya untuk membayar THR. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan komitmen perusahaan dalam memenuhi hak pekerja secara profesional dan bertanggung jawab.
Hairil Fajar merumuskan dua hal penting yang perlu menjadi perhatian masyarakat dan pelaku usaha. Pertama, momentum ekonomi Ramadhan harus direspons dengan perencanaan keuangan matang serta analisis kebutuhan nyata.
Kedua, pemilik usaha wajib menyiapkan cadangan dana seperti Tabungan Hari Raya demi menjaga stabilitas perusahaan. Ia optimistis, disiplin dalam pengelolaan keuangan akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.
Dengan strategi berbasis data serta perencanaan terukur, pelaku usaha di Sumenep dapat memaksimalkan peluang Ramadhan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha yang lebih kuat, adaptif, dan tahan terhadap fluktuasi musiman.(*)











