Sumenep, Salam News. Id – Anggota Komisi I DPRD Sumenep, Hairul Anwar, menyerukan percepatan kemandirian finansial desa menyusul pemangkasan anggaran transfer pusat hingga 70 persen. Kebijakan pengurangan dana tersebut dinilai sebagai tantangan serius sekaligus peluang besar bagi desa-desa di Kabupaten Sumenep untuk berbenah.
Politisi dari Partai Amanat Nasional itu menegaskan, desa tidak boleh terus bergantung pada bantuan pemerintah pusat. Menurutnya, perubahan situasi fiskal nasional harus dijadikan titik balik menuju pembangunan desa yang lebih mandiri.
Hairul Anwar, yang akrab disapa Irul, menyebut desa perlu segera menyusun strategi keuangan berkelanjutan. Ia memandang ketergantungan tinggi terhadap dana transfer pusat berpotensi melemahkan daya saing desa ke depan.

Selama ini, sebagian besar anggaran desa di Sumenep masih bersumber dari Dana Desa dan Alokasi Dana Desa. Ketergantungan tersebut bahkan mencapai sekitar 95 persen dari total kebutuhan pembiayaan pembangunan desa.
Irul menilai kondisi itu tidak sehat bagi proses pembangunan jangka panjang yang berorientasi kemandirian. Desa, menurutnya, harus berani menggali potensi ekonomi lokal secara lebih kreatif dan inovatif.
Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir aparatur desa dalam merancang program pembangunan. Transformasi tata kelola keuangan desa dinilai menjadi langkah strategis menghadapi pengurangan anggaran pusat.
Irul menyampaikan pernyataan tersebut kepada wartawan pada Senin, 9 Februari 2026 lalu. Dalam keterangannya, ia menegaskan kemandirian finansial akan membuat pembangunan desa lebih stabil.
Jika desa mampu menghasilkan pendapatan sendiri, program pembangunan dapat berjalan tanpa hambatan berarti. Ia menambahkan, ketergantungan penuh pada subsidi pusat berisiko menghambat percepatan pembangunan daerah.
Oleh sebab itu, desa perlu menciptakan sumber pendapatan alternatif yang berkelanjutan. Salah satu caranya dengan mengoptimalkan potensi alam yang melimpah di wilayah Sumenep.
Irul menyebut sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan memiliki peluang besar dikembangkan. Dengan sentuhan inovasi, komoditas lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Nilai tambah tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan asli desa secara signifikan. Ia menilai masyarakat Sumenep memiliki karakter pekerja keras yang patut diberdayakan maksimal.
Sebagian besar warga berprofesi sebagai petani, pekebun, dan nelayan yang produktif. Potensi sumber daya manusia tersebut harus didukung kebijakan desa yang progresif.
Irul mendorong pemerintah desa menyusun perencanaan ekonomi berbasis potensi lokal. Pengembangan Badan Usaha Milik Desa dinilai menjadi salah satu solusi strategis.
Melalui BUMDes, desa dapat mengelola usaha produktif secara profesional dan transparan. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat.
Partisipasi aktif warga akan memperkuat keberhasilan program pemberdayaan ekonomi desa. Menurutnya, kreativitas menjadi kunci utama menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah.
Desa harus adaptif terhadap perkembangan pasar dan kebutuhan masyarakat modern. Irul optimistis desa-desa di Sumenep mampu bangkit melalui inovasi berkelanjutan.
Ia berharap pemangkasan anggaran justru memacu semangat kemandirian kolektif. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan visi pembangunan daerah yang inklusif.
Desa yang mandiri diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata. Irul juga mengingatkan pentingnya transparansi dalam pengelolaan keuangan desa.
Akuntabilitas anggaran akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa. Dengan tata kelola baik, potensi penyalahgunaan dana dapat diminimalkan.
Ia menegaskan pembangunan berkelanjutan memerlukan perencanaan matang dan konsisten. Kemandirian finansial, lanjutnya, bukan sekadar wacana tetapi kebutuhan mendesak.
Desa harus memanfaatkan momentum kebijakan fiskal nasional untuk bertransformasi. Irul percaya perubahan pola pikir menjadi fondasi utama kemajuan desa.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan bersinergi membangun ekonomi desa kuat. Menurutnya, tantangan saat ini tidak boleh mematahkan semangat pembangunan.
Sebaliknya, situasi tersebut harus memicu inovasi dan keberanian mengambil langkah baru. Desa yang adaptif akan lebih siap menghadapi tekanan ekonomi global.
Irul berharap Kabupaten Sumenep dapat menjadi contoh kemandirian desa di Madura. Dengan pengelolaan potensi lokal maksimal, kesejahteraan masyarakat diyakini meningkat signifikan.
Ia menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa desa mandiri bukan hal mustahil. Komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan transformasi ekonomi desa.(*)











