Oleh : Ustad Junaidi Rahman
Artikel, Salam News. Id – Ibrahim bin An’am rahimahullah pernah ditanya tentang hakikat asketisme dalam perjalanan hidupnya menuju ketenangan batin sejati. Ia menjawab dengan kalimat singkat namun menggetarkan hati setiap pendengar yang merenungkan maknanya secara mendalam.
Beliau berkata bahwa ia menemukan asketisme melalui tiga perenungan besar dalam kehidupannya. Pertama, ia melihat kubur sebagai tempat sunyi dan tanpa seorang teman pun.

Kesunyian kubur menggambarkan keterputusan manusia dari keluarga, sahabat, serta segala kemegahan dunia fana. Di sana tidak ada gelar, harta, maupun kedudukan yang dapat menemani seseorang.
Kesadaran akan kesendirian itu membuat hatinya berpaling dari ketergantungan kepada makhluk. Ia menyadari bahwa setiap manusia pasti memasuki liang lahat sendirian, tidak ada seorang pun yang mampu menanggung beban amal orang lain.
Kedua, ia melihat perjalanan akhirat begitu panjang dan melelahkan. Perjalanan itu bukan sekadar jarak, melainkan fase pertanggungjawaban yang agung.
Namun ia merasa tidak memiliki bekal yang cukup untuk menempuhnya. Perasaan kekurangan bekal itulah yang melahirkan sikap zuhud mendalam. Ia menilai amalnya masih sedikit dibanding luasnya perjalanan menuju akhirat, Karena itu, ia memilih hidup sederhana demi menambah bekal kebaikan.
Ketiga, ia melihat Allah Yang Mahakuasa sebagai Hakim sejati, hakim itu tidak dapat dipengaruhi oleh kedudukan ataupun kekuasaan manusia. Ia merasa tidak memiliki pembelaan di hadapan pengadilan Ilahi kelak. Kesadaran ini membuatnya semakin takut dan berhati-hati dalam bertindak. Rasa takut tersebut bukan keputusasaan, melainkan kesadaran spiritual mendalam.
Perenungan itu mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan dunia sepenuhnya. Kisah serupa diriwayatkan tentang Ibrahim ibn Adham yang terkenal sebagai tokoh zuhud besar. Beliau dahulu dikenal sebagai penguasa di wilayah Balkh yang makmur.
Sebagai sultan, ia hidup dalam kemewahan dan kekuasaan melimpah. Namun takdir membawanya menuju perubahan drastis dalam hidupnya, suatu hari ia pergi berburu di padang luas kerajaannya.
Ketika mengejar hewan buruan, terdengar suara menegurnya keras, suara itu bertanya, apakah untuk tujuan ini ia diciptakan, pertanyaan tersebut mengguncang batinnya hingga ia terdiam.
Lalu terdengar lagi seruan dari arah pelana kudanya,suara itu menegaskan bahwa hidupnya bukan untuk kesenangan semata, mendengar teguran gaib tersebut, ia segera turun dari kudanya.
Ia menyadari bahwa panggilan itu adalah peringatan Ilahi, ia kemudian mendaki gunung dan bertemu seorang gembala ayahnya, dari gembala itu ia mengambil sehelai wol sederhana.
Ia meninggalkan pakaian kebesarannya dan memilih busana kasar, harta serta kudanya ia serahkan, lalu memasuki padang pasir, perjalanan panjang membawanya menuju kota suci Makkah.
Di sana ia beribadah dan mendalami makna ketundukan sejati. ia kemudian bersahabat dengan Sufyan al-Thawri yang terkenal wara’. Ia juga bergaul dengan Al-Fudayl ibn Iyad dalam lingkaran para zahid.
Kehidupan barunya dipenuhi ibadah, kerja keras, dan kesederhanaan, ia makan dari hasil tangannya sendiri tanpa bergantung pemberian orang, kadang ia memanen tanaman atau merawat kebun sederhana.
Ia menolak kemewahan demi menjaga kebersihan hatinya, Tentang kubur, ia berkata bahwa kesunyian memisahkan dari kekasih, tidak ada teman yang tinggal bersama seseorang dalam liang lahad.
Tentang perjalanan akhirat, ia menyebutnya sangat Panjang, ia merasa bekalnya masih kurang untuk menempuh jarak tersebut, tentang Allah SWT sebagai Hakim, ia mengakui tiada hujah pembela.
Kesadaran ini menjadi fondasi asketismenya yang kokoh, sementara itu, Sufyan al-Thawri pernah ditanya tentang keintiman bersama Allah SWT. Beliau menjawab dengan nasihat yang menyingkap hakikat batin.
Menurutnya, keintiman bukan terhibur oleh wajah rupawan, bukan pula terpesona oleh suara merdu yang memikat, dan bukan pula terpukau oleh kefasihan lidah manusia.
Semua itu hanyalah hiasan dunia yang sementara, keintiman sejati adalah hati yang terikat kepada Allah SWT. Hati tersebut tidak mudah tergoda gemerlap dunia.
Ia memandang kecantikan dan kemerduan sebagai ujian, bukan sebagai sumber kebahagiaan hakiki dan abadi, bagi para zahid, kebahagiaan terletak pada kedekatan Ilahi.
Kedekatan itu lahir dari keikhlasan serta pengendalian diri,mereka memutus ketergantungan berlebihan pada makhluk, mereka memperkuat hubungan batin dengan Sang Pencipta.
Ajaran ini relevan sepanjang zaman dan lintas generasi, manusia modern pun menghadapi godaan dunia serupa, kesunyian kubur tetap menanti tanpa memandang status sosial.
Perjalanan akhirat tetap panjang dan penuh perhitungan, pengadilan Ilahi tetap adil tanpa kompromi kepentingan. Karena itu, asketisme bukan sekadar meninggalkan harta.
Ia adalah kesadaran mendalam tentang hakikat kehidupan, ia menata ulang prioritas antara dunia dan akhirat. Ia menumbuhkan rasa tanggung jawab spiritual pribadi.
Melalui teladan para ulama, kita belajar merenung, bahwa hidup bukan sekadar mencari pujian manusia, melainkan mempersiapkan diri menghadapi keabadian sejati.(Red/Part.18 )Edisi Bulan Suci Ramadhan 2026
Refrensi Kajian,
Kitab Nashaihul Ibad
وَعَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَنْعَمَ رَحِمَهُ اللهُ : أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: بِمَ وَجَدْتَ الزُّهْدَ؟ قَالَ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاء رَأَيْتُ القَبْرَ موحشاً وَلَيْسَ مَعِي مُؤنس، وَرَأَيْتُ طَرِيقاً طويلاً وَلَيْسَ مَعِيَ زَادَ، وَرَأَيْتُ الجَبَّارَ قَاضِياً وَلَيْسَ لِي حُجَّةٌ.
وَعَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ: أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْأُنْسِ بِاللَّهِ تَعَالَى مَا هُوَ؟ فقال : أَلَّا تَسْتَأْنِسَ بِكُلِّ وَجْهِ صَبِيحٍ، وَلَا بِصَوْتٍ طَيْبٍ، وَلَا بِلِسَانِ فَصِيحٍ.
(و) المقالة الحادية والثلاثون (عن إبراهيم بن أدهم رحمه الله أنه قيل له : يم وجدت الزهد أي بأي شيء أحببت ترك راحة الدنيا طلباً لراحة الآخرة. روي أنه كان سلطاناً في بلده فترك السلطنة واجتهد في العبادة في مكة وغيرها .
وفي الرسالة القشيرية هو أبو إسحاق إبراهيم بن منصور من كورة بلخ كان من أبناء الملوك فخرج يوماً متصيداً فأثار تعلياً أو أرتباً وهو في طلبه فهتف به هاتف: يا إبراهيم الهذا خلقت أم بهذا أمرت؟ ثم هتف به أيضاً من قربوس سرجه والله ما لهذا خلقت ولا بهذا أمرت، فنزل عن دابته وصادف راعياً لأبيه فأخذ حبة للراعي من صوف وليسها وأعطاء فرسه وما معه ثم إنه دخل البادية ثم دخل مكة وصحب بها سفيان الثوري والفضيل بن عياض ودخل الشام ومات بها وكان يأكل من عمل يده مثل الحصاد وحفظ البساتين وغير ذلك اهـ.
(قال) أي سيدنا إبراهيم بثلاثة أشياء: رأيت القبر موحشاً) أي قاطعاً للقلوب عن محبوباته (وليس معي مؤنس) أي من يسكن قلبي ورأيت طريقاً طويلاً) أي مسافة بعيدة في الآخرة وليس معي زاد) يعينني على تلك المسافة ورأيت الجبار) أي الذي يقهر العباد على كل ما أراد (قاضياً وليس لي حجة) أي ما يدل على صحة دعواي.
(و) المقالة الثانية والثلاثون عن سفيان الثوري رحمه الله : أنه سئل عن الأنس بالله تعالى ما هو ؟ فقال : ( أي سفيان أن لا تستأنس بكل وجه صبيح) أي مشرق ولا بصوت طيب) أي لذيذ











