Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/saly4638/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Tiga Cinta Rasulullah dan Para Sahabat: Hikmah Menata Hati Antara Dunia dan Akhirat

- Pewarta

Minggu, 8 Maret 2026 - 11:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Artikel, Salam News. Id – Kisah tentang kecintaan Rasulullah terhadap beberapa hal duniawi sering menjadi pelajaran penting mengenai keseimbangan spiritual dan kehidupan manusia sehari hari. Dalam sebuah hadits masyhur Rasulullah menyebutkan tiga perkara dunia yang beliau sukai yaitu wewangian wanita serta ketenangan dalam ibadah shalat.

Ungkapan tersebut tidak menunjukkan kecintaan berlebihan kepada dunia melainkan menggambarkan hikmah keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kedekatan kepada Allah semata. Wewangian melambangkan kebersihan dan keindahan sementara wanita menggambarkan keluarga sedangkan shalat menjadi sumber ketenangan hati seorang mukmin dalam kehidupan seharihari.

Para sahabat duduk bersama Rasulullah mendengarkan sabda beliau dengan penuh perhatian karena setiap perkataan Nabi mengandung hikmah mendalam bagi umat. Di antara sahabat yang hadir adalah Abu Bakar as Siddiq sahabat terdekat yang selalu setia menemani Rasulullah dalam setiap keadaan.

Ucapan KPU-HPN 2025

Abu Bakar kemudian berkata bahwa ia juga memiliki tiga kecintaan di dunia yang berkaitan langsung dengan Rasulullah tercinta bagi dirinya. Pertama memandang wajah Rasulullah kedua membelanjakan hartanya untuk perjuangan Nabi dan ketiga menikahkan putrinya dengan beliau sebagai bentuk cinta sejati.

Ucapan Abu Bakar menunjukkan kedalaman cinta dan pengorbanannya terhadap Rasulullah serta kesediaannya mendukung dakwah dengan seluruh kemampuan harta dan jiwa. Setelah itu Umar bin Khattab turut berbicara membenarkan perkataan Abu Bakar dan menyampaikan tiga hal yang ia sukai di dunia.

Umar mengatakan bahwa ia mencintai amar maruf nahi munkar serta kesederhanaan hidup yang digambarkan melalui pakaian usang dalam kehidupan seharihari. Riwayat menyebutkan pakaian Umar sering memiliki banyak tambalan namun hal itu tidak mengurangi kemuliaan dan wibawanya sebagai pemimpin umat Islam.

Kesederhanaan Umar menjadi teladan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kemewahan tetapi oleh ketakwaan dan keberanian membela kebenaran dalam hidup. Setelah Umar berbicara Utsman bin Affan juga menyampaikan kecintaan yang tumbuh dalam hatinya sebagai sahabat Rasulullah yang lembut dan dermawan.

Utsman berkata ia mencintai memberi makan orang lapar memberi pakaian kepada kaum Badui serta membaca Al Quran dengan hati khusyuk. Kedermawanan Utsman dikenal luas bahkan ia sering menggunakan hartanya membantu kaum muslimin terutama pada masa kesulitan dan kebutuhan masyarakat Madinah.

Kecintaan Utsman terhadap Al Quran juga sangat besar hingga diriwayatkan beliau mampu mengkhatamkan bacaan dalam dua rakaat shalat malam hari. Kemudian Ali bin Abi Thalib menyampaikan kecintaannya yang mencerminkan keberanian ibadah dan kepedulian terhadap sesama dalam kehidupan seorang mukmin sejati.

Baca Juga :  Pentingnya Pengelolaan Dana Wakaf  Masjid menurut K. Robeit Alfaroh, MH

Ali mengatakan ia mencintai beribadah kepada Allah berpuasa di musim panas serta menghadapi musuh dengan pedang demi membela agama Islam. Ucapan Ali menggambarkan keberanian spiritual sekaligus fisik yang menjadi ciri khas perjuangannya dalam membela kebenaran serta menjaga kehormatan umat Islam.

Kisah dialog para sahabat ini menunjukkan perbedaan kecintaan namun semuanya berakar pada nilai iman pengorbanan dan ibadah kepada Allah semata. Masing masing sahabat mengekspresikan kecintaan dunia yang justru mengantarkan mereka semakin dekat kepada Allah melalui amal saleh dan niat tulus.

Hal ini mengajarkan bahwa dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya tetapi dijadikan sarana menuju keridhaan Allah melalui amal baik setiap waktu. Rasulullah mencontohkan kehidupan seimbang antara ibadah keluarga kebersihan serta ketenangan hati yang ditemukan dalam shalat khusyuk oleh setiap mukmin sejati.

Cinta terhadap wewangian juga menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan tubuh karena Islam sangat menghargai keindahan dan kerapian dalam kehidupan seharihari manusia.

Demikian pula kecintaan kepada keluarga mengingatkan manusia bahwa rumah tangga merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang kuat dan berakhlak. Shalat sebagai penyejuk mata Rasulullah menunjukkan bahwa ibadah adalah sumber kebahagiaan sejati bagi hati seorang mukmin yang mencari ridha Allah.

Para sahabat memahami pesan tersebut lalu menerjemahkannya dalam bentuk amal nyata sesuai karakter dan keutamaan masing masing dalam kehidupan mereka. Abu Bakar menonjol dalam cinta dan pengorbanan Umar dalam keadilan Utsman dalam kedermawanan serta Ali dalam keberanian membela agama Islam.

Perbedaan keutamaan itu justru memperkaya umat karena setiap sahabat memberikan teladan dari sisi yang berbeda namun tetap menuju ridha Allah. Kisah ini juga mengingatkan pentingnya niat dalam mencintai sesuatu agar tidak terjerumus pada kecintaan dunia berlebihan melalaikan manusia dari Allah.

Jika kecintaan diarahkan kepada kebaikan maka dunia berubah menjadi ladang amal menuju kehidupan akhirat yang penuh rahmat dan ampunan Allah. Sebaliknya tanpa iman kecintaan dunia dapat menjerumuskan manusia pada kesombongan keserakahan dan kelalaian yang menjauhkan hati dari petunjuk Allah selamanya.

Oleh karena itu teladan Rasulullah dan para sahabat menjadi panduan berharga dalam menata kecintaan terhadap dunia secara bijak dan seimbang. Dengan memahami kisah tersebut umat Islam diharapkan mampu mencintai dunia secara proporsional tanpa melupakan tujuan akhir kehidupan yaitu ridha Allah.(Red/Part.23) Edisi Bulan Romadhan 2026

Refrensi Kajian,

Kitab Nashaihul Ibad

وَعَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «حبب إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ ثَلَاثَ : الطيب وَالنِّسَاءُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ، وَكَانَ مَعَهُ أَصْحَابُهُ جُلُوسًا فَقَالَ أَبُو بكر الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ : صَدَقْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَحُبَّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثلاث : النظرُ إِلَى وَجْهِ رَسُولِ اللهِ، وَإِنْفَاقُ مَالِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَأَنْ تَكُونَ ابنتِي تَحْتَ رَسُولِ اللهِ، فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: صَدَقْتَ يَا أَبَا بَكْرٍ، وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثلاث: الأمرُ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْي عَنِ المُنْكَرِ، وَالثَّوْبُ الخَلَقُ فَقَالَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : صَدَقْتَ يَا عُمَرُ ، وَحُبَّتِ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثَلَاثَ : إِشْبَاحُ الجيعان، وكسوة العُرْبانِ، وَبَلاوَةُ القُرْآنِ : فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : صَدَقْتَ يَا عُثْمَانُ، وَحُبْبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثلاث: الخِدْمَةُ للطَّيفِ، وَالصَّوْمُ فِي الصَّيْفِ، والضرب بالسيف.

Baca Juga :  Tiga Perenungan Ibrahim bin An’am: Jalan Sunyi Menuju Ketenangan Batin Sejati

(و) المقالة الثانية والأربعون (عن رسول الله أنه قال: حبب إلي من دُنْيَاكُمْ) أي محبوباتكم مما بين السموات والأرض الثلاث:الطيب والنساء وجعلت قرة عيني في الصلاة) وهذه الخصال التي وقعت الرسول الله ﷺ ليست من الدنيا في شيء لأن كل ما كان الله تعالى ليبن من الدنيا كالذي لا بد منه من القوت والمسكن والمليس كما قاله الشيخ خليل الرشيدي في المجالس الرائقة (وكان معه) (أصحابه) رضي الله عنهم (جلوساً فقال أبو بكر الصديق رضي الله تعالى عنه صدقت يا رسول الله، وحبب إلي من الدنيا) أي مما كان بين السموات والأرض (ثلاث: النظر إلى وجه رسول الله ( وإنفاق مالي على رسول الله وأن تكون ابنتي تحت رسول الله ﷺ فقال عمر رضي الله عنه : صدقت يا أبا بكر وحبب إلي من الدنيا ثلاث: الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر والثوب الخلق) بفتحتين أي البالي روي أنه كان في جبته أربع عشرة رقعة (فقال عثمان رضي الله عنه : صدقت يا عمر وحبب إلي من الدنيا ثلاث: إشباع الجيعان وكسوة العربان وتلاوة القرآن روي أنه ختم القرآن في ركعتين في الليل (فقال علي رضي الله عنه وكرم وجهه صدقت با عثمان وحبب إلي من الدنيا ثلاث: الخدمة للضيف، والصوم في الصيف أي في وقت شدة الحر (والضرب) أي للأعداء (بالسيف)

Berita Terkait

MGMP Bahasa Indonesia Sumenep Smp/MTs Tebar Kepedulian, Santuni Anak Yatim dan Duafa di Masjid Ar-Raudhah Matanair
Gemuruh Ramadhan di Masjid Miftahul Jannah, Malam Puncak Lomba Islami Berlangsung Meriah
Bupati Fauzi Santuni Anak Yatim di Kantor BAZNAS, Ramadan Jadi Momentum Menguatkan Kepedulian Sosial
Amal yang Diterima, Taubat yang Tulus, dan Akhir yang Indah
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo Bersama Ribuan Jamaah Gelar Lautan Sholawat di Taman Potre Koneng, Refleksi Kepemimpinan Fauzi–Imam
Tiga Amalan Penyehat Akal dan Penjaga Jiwa: Hikmah Ali bin Abi Talib hingga Ka’b al-Ahbar
Hidup Sederhana, Hati Mulia: Hakikat Asketisme Seorang Mukmin
Mutiara Hikmah Ibnu Abbas: Makna Huruf yang Menuntun Jiwa Menuju Surga

Berita Terkait

Minggu, 8 Maret 2026 - 11:35 WIB

Tiga Cinta Rasulullah dan Para Sahabat: Hikmah Menata Hati Antara Dunia dan Akhirat

Sabtu, 7 Maret 2026 - 20:50 WIB

MGMP Bahasa Indonesia Sumenep Smp/MTs Tebar Kepedulian, Santuni Anak Yatim dan Duafa di Masjid Ar-Raudhah Matanair

Kamis, 5 Maret 2026 - 09:49 WIB

Bupati Fauzi Santuni Anak Yatim di Kantor BAZNAS, Ramadan Jadi Momentum Menguatkan Kepedulian Sosial

Senin, 2 Maret 2026 - 21:13 WIB

Amal yang Diterima, Taubat yang Tulus, dan Akhir yang Indah

Senin, 2 Maret 2026 - 11:29 WIB

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo Bersama Ribuan Jamaah Gelar Lautan Sholawat di Taman Potre Koneng, Refleksi Kepemimpinan Fauzi–Imam

Minggu, 22 Februari 2026 - 14:16 WIB

Tiga Amalan Penyehat Akal dan Penjaga Jiwa: Hikmah Ali bin Abi Talib hingga Ka’b al-Ahbar

Sabtu, 21 Februari 2026 - 09:42 WIB

Hidup Sederhana, Hati Mulia: Hakikat Asketisme Seorang Mukmin

Jumat, 20 Februari 2026 - 09:34 WIB

Mutiara Hikmah Ibnu Abbas: Makna Huruf yang Menuntun Jiwa Menuju Surga

Berita Terbaru