Sumenep, Salam News. Id – Momentum Hari Pendidikan Nasional dimanfaatkan Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Sumenep memperkuat pelestarian budaya lokal secara berkelanjutan. Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui peluncuran program bertajuk Satu Hari Berbahasa Madura Enggi Bhunten di lingkungan sekolah setempat.
Program ini menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap kelestarian bahasa daerah, khususnya bahasa Madura halus yang mulai jarang digunakan. Di tengah arus modernisasi, penggunaan bahasa daerah mengalami penurunan signifikan, terutama di kalangan pelajar yang lebih akrab bahasa nasional.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep, Rusliy, S.Pd., M.Pd., menegaskan program ini bukan sekadar simbolik tanpa makna mendalam. Ia menjelaskan bahwa program tersebut dirancang melalui pendekatan kreatif agar siswa lebih tertarik menggunakan bahasa Madura dalam aktivitas sehari-hari.

Berbagai kegiatan disiapkan untuk mendukung implementasi program tersebut, mulai dari lomba puisi, pementasan drama, hingga seni karawitan tradisional. Melalui kegiatan itu, siswa diharapkan mampu mengekspresikan diri menggunakan bahasa Madura halus dalam konteks kreatif dan menyenangkan.
Rusliy menambahkan bahwa pendekatan kreatif dinilai efektif untuk membangun kebiasaan berbahasa daerah tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada siswa. Selain itu, guru juga dilibatkan aktif dalam membimbing dan memberikan contoh penggunaan bahasa Madura yang baik serta santun.
Pelaksanaan program ini difokuskan di wilayah daratan Kabupaten Sumenep dengan mempertimbangkan kesesuaian budaya dan penggunaan bahasa sehari-hari masyarakat. Wilayah kepulauan seperti Sapeken dan Sakala memiliki keragaman bahasa sehingga penerapan program disesuaikan dengan kondisi sosial setempat.
Pendekatan fleksibel dilakukan agar program tidak bertentangan dengan realitas budaya yang berkembang di masing-masing wilayah pendidikan tersebut. Selain faktor wilayah, kemampuan siswa dan tenaga pendidik juga menjadi pertimbangan utama dalam penerapan program tersebut secara bertahap.
Penyesuaian ini penting agar pelaksanaan program berjalan efektif dan tidak menjadi beban tambahan bagi siswa maupun guru di sekolah. Menurut Rusliy, S.Pd., M.Pd, keberhasilan program bergantung pada keterlibatan semua pihak, termasuk sekolah, guru, siswa, serta dukungan masyarakat sekitar.
Ia menilai bahwa pelestarian bahasa daerah harus dimulai dari lingkungan pendidikan sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda bangsa. Bahasa Madura halus memiliki nilai sopan santun tinggi yang mencerminkan budaya dan etika masyarakat yang perlu terus diwariskan.
Namun demikian, penggunaan bahasa tersebut kini mulai memudar, bahkan di kalangan pelajar dan mahasiswa di berbagai daerah. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena dapat mengancam keberlangsungan identitas budaya lokal dalam jangka panjang mendatang.
Rusliy, S.Pd., M.Pd. menegaskan bahwa upaya pelestarian harus dilakukan secara sistematis, terencana, dan melibatkan berbagai elemen pendidikan serta masyarakat luas. Program ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kembali kebanggaan terhadap bahasa daerah di kalangan generasi muda.
Selain itu, siswa diharapkan tidak hanya memahami, tetapi juga mampu menggunakan bahasa Madura halus dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, bahasa daerah tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat modern saat ini.
Rusliy, S.Pd., M.Pd. menutup pernyataannya dengan harapan bahwa program ini mampu menjaga identitas budaya daerah agar tidak terkikis oleh zaman.(*/Red)











