Afta Nasrullah Jangan Seret Suku Madura ke Konflik Pribadi

- Pewarta

Rabu, 8 Oktober 2025 - 15:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumenep, Salam News. Id – Content creator terkenal, Afta Nasrullah, angkat bicara menanggapi maraknya seruan boikot terhadap seluruh warung Madura yang ramai di media sosial. Ia menilai isu tersebut muncul akibat kesalahpahaman publik terkait konflik antara Yai Mim dan Sahara, yang sejatinya hanyalah persoalan pribadi antar tetangga.

Menurut Afta, masalah itu tidak seharusnya dinarasikan menjadi isu kesukuan yang dapat memecah belah kerukunan masyarakat Indonesia secara luas dan berbahaya. “Boikot semua warung Madura di Indonesia? Ini hanya terjadi di media sosial, bukan realitas masyarakat Indonesia,” ungkap Afta menegaskan sikapnya.

Dalam video yang diunggah di akun TikTok pribadinya, Jumat, 3 September 2025, Afta mengimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi isu tersebut. Ia menyebut bahwa masyarakat Indonesia kini sudah jauh lebih cerdas dalam menilai perbedaan antara konflik pribadi dengan isu yang bersifat etnis.

Afta menegaskan, penyebaran narasi negatif ini berasal dari segelintir oknum yang sengaja menggiring opini publik untuk menimbulkan kebencian terhadap kelompok tertentu. “Saya nggak tahu orang-orang seperti itu di dunia nyata bagaimana. Apa punya masalah dengan orang Madura atau cuma benci saja?” katanya.

Baca Juga :  DLH Sumenep Berharap Masyarakat Sudah Sadar Untuk Memilih dan Memilah Sampah Organik dan Anorganik.

Pria kelahiran Bangkalan, Madura ini merasa prihatin karena kesalahan individu justru dijadikan alasan untuk menyalahkan seluruh kelompok masyarakat Madura. Ia menolak keras pandangan bahwa tindakan buruk seseorang bisa mewakili karakter seluruh suku yang beragam dan berkontribusi besar pada bangsa.

“Setiap suku pasti ada orang baik dan buruk. Tidak adil jika satu kesalahan dijadikan label untuk semuanya,” tegas Afta lugas. Lebih jauh, Afta menyoroti bahwa masyarakat Madura dikenal pekerja keras dan memiliki peran besar dalam menggerakkan roda ekonomi rakyat di banyak daerah.

Menurutnya, banyak pengusaha Madura sukses menjalankan bisnis, bahkan membuka lapangan kerja luas bagi masyarakat lintas suku di seluruh Indonesia. “Kalau orang Madura dibilang resek, bagaimana dengan mereka yang sukses dan kaya? Orang resek nggak akan bisa sukses,” ujarnya tegas.

Afta menambahkan bahwa dirinya tidak berpihak pada Yai Mim maupun Sahara, tetapi ingin melindungi masyarakat Madura yang tak terlibat namun ikut terdampak. Ia menilai, banyak warganet yang salah memahami konteks persoalan ini karena hanya membaca potongan video tanpa mengetahui latar belakang lengkapnya.

Baca Juga :  Bupati Sumenep Achmad Fauzi: Penyaluran CSR Harus Mencontoh PT MDM

“Biasanya, yang suka buat narasi negatif seperti itu memang punya konflik pribadi atau dendam lama terhadap suku tertentu,” katanya lagi. Afta juga mengajak masyarakat agar lebih bijak dan berhati-hati dalam menerima informasi yang beredar di dunia maya, terutama di platform media sosial.

Ia yakin publik Indonesia kini semakin dewasa dan mampu membedakan mana fakta, mana isu yang hanya digoreng untuk kepentingan tertentu. Dalam kesempatan yang sama, Afta berharap semua pihak bisa menyelesaikan polemik secara damai tanpa memperpanjang kesalahpahaman di ruang publik.

Ia bahkan meminta keluarga Sahara untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka karena telah menyeret nama besar suku Madura dalam konflik pribadi. “Kalau memang merasa benar, tetaplah minta maaf karena dampaknya besar bagi banyak orang Madura yang tak tahu apa-apa,” ucapnya tulus.

Menurut Afta, permintaan maaf yang dilakukan dengan hati akan berdampak positif, bukan hanya untuk masyarakat Madura, tapi juga untuk Sahara sendiri. “Saya percaya, ketika seseorang meminta maaf dengan tulus, maka kebaikan akan kembali kepada dirinya juga,” pungkas Afta Nasrullah menutup pernyataannya.(*)

Berita Terkait

Banggar DPRD Sumenep Tunda Pembahasan KUA-PPAS 2027, Mosi Tidak Percaya kepada Sekda Mengemuka
Pemkab Sumenep Perkuat Disiplin ASN, Bangun Birokrasi Profesional dan Pelayanan Publik Berkualitas
RSUD Moh. Anwar Sumenep Andalkan Kebersihan Lingkungan sebagai Pilar Mutu Layanan Kesehatan
DKPP Sumenep Anggarkan Rp1,9 Miliar untuk Alsintan, Percepat Modernisasi Pertanian dan Dukung Swasembada Pangan
KPRI RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Raih Predikat Koperasi Sehat, Bukti Tata Kelola Profesional dan Transparan
Bupati Sumenep Pastikan Rotasi Pejabat Terus Berjalan, Evaluasi Kinerja Dilakukan Setiap Enam Bulan
DKPP Sumenep Gandeng Polres, Kejaksaan, dan Gapoktan Awasi Program Pertanian 2026
Polres Resmi Naik Status Menjadi Polresta, Kapolda Minta Pelayanan Kepolisian di Sumenep Semakin Profesional

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 18:53 WIB

Banggar DPRD Sumenep Tunda Pembahasan KUA-PPAS 2027, Mosi Tidak Percaya kepada Sekda Mengemuka

Senin, 20 Juli 2026 - 18:47 WIB

Pemkab Sumenep Perkuat Disiplin ASN, Bangun Birokrasi Profesional dan Pelayanan Publik Berkualitas

Senin, 20 Juli 2026 - 10:30 WIB

RSUD Moh. Anwar Sumenep Andalkan Kebersihan Lingkungan sebagai Pilar Mutu Layanan Kesehatan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 07:50 WIB

DKPP Sumenep Anggarkan Rp1,9 Miliar untuk Alsintan, Percepat Modernisasi Pertanian dan Dukung Swasembada Pangan

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:04 WIB

KPRI RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Raih Predikat Koperasi Sehat, Bukti Tata Kelola Profesional dan Transparan

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:55 WIB

Bupati Sumenep Pastikan Rotasi Pejabat Terus Berjalan, Evaluasi Kinerja Dilakukan Setiap Enam Bulan

Kamis, 16 Juli 2026 - 17:01 WIB

DKPP Sumenep Gandeng Polres, Kejaksaan, dan Gapoktan Awasi Program Pertanian 2026

Kamis, 16 Juli 2026 - 15:27 WIB

Polres Resmi Naik Status Menjadi Polresta, Kapolda Minta Pelayanan Kepolisian di Sumenep Semakin Profesional

Berita Terbaru