Oleh : Ustad Moh. Junaidi Rahman
Artikel, Salam News. Id – Riwayat dari Ibnu Abbas menyimpan mutiara hikmah tentang makna huruf dalam kehidupan seorang mukmin sejati. Beliau menjelaskan bahwa setiap huruf mengandung pesan mendalam bagi perjalanan ruhani manusia menuju kebahagiaan akhirat.
Kata الرَّهْدُ (ar-rahd) dalam bahasa Arab secara umum memiliki makna kelapangan, kemudahan, atau keluasan hidup. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan keadaan yang nyaman, luas, dan penuh kecukupan.

Kata “rahd” menurut beliau terdiri dari tiga huruf bermakna simbolis dan penuh pelajaran spiritual. Huruf pertama adalah ra, melambangkan rezeki untuk akhirat yang harus dipersiapkan setiap hamba beriman.
Rezeki akhirat bukan berupa harta, melainkan amal saleh yang menguatkan kedudukan di hadapan Allah. Huruf kedua adalah ha, yang berarti petunjuk dalam menjalani agama secara benar.
Petunjuk agama menuntun manusia mengikuti jalan Rasulullah dan menjauhi kesesatan yang membinasakan. Huruf ketiga adalah dal, yang bermakna ketekunan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
Ketekunan menunjukkan konsistensi, tidak mudah goyah oleh godaan dunia yang memalingkan hati. Ibnu Abbas juga menyampaikan makna lain dari huruf-huruf tersebut dalam riwayat berbeda. Ra dimaknai sebagai meninggalkan perhiasan dunia yang melalaikan hati manusia.
Ha diartikan sebagai meninggalkan keinginan berlebihan yang memperbudak jiwa. Dal dijelaskan sebagai ketaatan yang terus-menerus tanpa mengenal kelelahan spiritual, makna tersebut mengajarkan bahwa kesalehan lahir dari pengendalian diri dan ketekunan.
Kesalehan bukan hanya penampilan luar, melainkan sikap batin yang bersih. Riwayat lain menyebutkan bahwa kesalehan terdiri dari tiga huruf bermakna mendalam. Zay melambangkan bekal akhirat berupa ketakwaan kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Ketakwaan menjadi fondasi utama agar amal diterima dan hidup diberkahi. Ha dalam riwayat tersebut berarti petunjuk mengikuti jalan Nabi Muhammad, mengikuti sunnah Rasul menjadi cahaya penuntun menuju keselamatan dunia akhirat.
Dal kembali dimaknai sebagai ketekunan dalam ketaatan tanpa henti. Ketekunan menjaga hati agar tidak tergelincir oleh hawa nafsu, dalam riwayat lainnya, zay berarti meninggalkan perhiasan dunia.
Perhiasan dunia seringkali menipu dan mengaburkan tujuan hidup sejati. Ha dimaknai meninggalkan hawa nafsu yang dicintai jiwa manusia, hawa nafsu jika diikuti akan menjauhkan hati dari cahaya petunjuk.
Dal diartikan sebagai meninggalkan dunia, termasuk mencari pujian manusia, mencari pujian hanya menumbuhkan riya dan merusak keikhlasan ibadah. Ibnu Abbas menekankan pentingnya hidup sederhana dan tidak berlebihan.
Kemewahan dalam makanan, pakaian, dan tempat tinggal sering melahirkan kelalaian, sikap zuhud bukan berarti miskin, tetapi tidak terikat pada dunia. Selain Ibnu Abbas, Hamid al-Laqqaf juga memberikan nasihat berharga.
Suatu hari seorang lelaki datang meminta nasihat untuk agamanya. Hamid al-Laqqaf menjawab dengan kalimat singkat namun penuh makna, beliau berkata, jadikan agamamu memiliki penutup seperti Al-Qur’an.
Penutup agama dimaksudkan sebagai penjaga dari pencemaran dosa dan kelalaian, lelaki tersebut bertanya, apakah yang dimaksud penutup agama itu, beliau menjelaskan bahwa agama harus dijaga dengan pengendalian diri.
Menahan diri dari berbicara kecuali yang diperlukan adalah penjagaan pertama, ucapan yang tidak perlu sering menimbulkan dosa dan perselisihan, beliau mengingatkan bahwa diam terkadang lebih mulia daripada berbicara.
Perkataan bijak menyebutkan bahwa berbicara adalah perak dan diam emas. Maksudnya, kebaikan dalam ucapan bernilai tinggi, namun diam dari keburukan lebih utama, namun diam dari kebenaran sama buruknya dengan berkata dusta.
Karena itu, kebijaksanaan diperlukan untuk menentukan kapan berbicara atau diam. Penutup agama berikutnya adalah menahan diri dari harta dunia berlebihan, harta diperlukan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang wajar.
Ketamakan terhadap harta menumbuhkan keserakahan dan melupakan tujuan akhirat, nasihat ketiga adalah menahan diri dari pergaulan tidak perlu, pergaulan berlebihan sering menyeret manusia pada kelalaian dan dosa.
Bergaullah seperlunya demi kebaikan dan tujuan yang jelas, semua nasihat tersebut mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam hidup. Agama dijaga dengan pengendalian lisan, harta, dan pergaulan.
Ketiga hal itu menjadi pagar kokoh bagi iman seorang mukmin, jika lisan terjaga, hati pun akan lebih bersih, jika harta terkendali, jiwa menjadi lebih lapang dan tenang.
Jika pergaulan terpilih, langkah hidup lebih terarah, pesan Ibnu Abbas dan Hamid al-Laqqaf saling melengkapi, keduanya menekankan pentingnya meninggalkan hal berlebihan demi keselamatan akhirat.
Kesalehan dibangun dari huruf-huruf makna yang dipraktikkan dalam keseharian, huruf-huruf tersebut menjadi simbol perjalanan ruhani manusia. Rezeki akhirat, petunjuk agama, dan ketekunan adalah kunci utama.
Meninggalkan perhiasan, hawa nafsu, dan pujian adalah benteng hati, menjaga lisan, harta, dan pergaulan adalah penutup agama, semua ajaran tersebut menuntun manusia menuju kehidupan lebih bermakna, dengan mengamalkannya, seorang mukmin meraih ketenangan batin sejati.(Red/Part.19)Edisi Ramadhan 2026
Refrensi Kajian,
Kitab Nashaihul Ibad
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ : الرَّهْدُ ثَلَاثَةُ أَحْرُفٍ : رَايِّ، وَهَاءَ وَدَالٌ، فَالزَّايِّ : زَادٌ لِلْمَعَادِ، وَالهَاءُ : هُدًى لِلدِّينِ، وَالدَّالَ : دَوَامٌ عَلَى الطَّاعَةِ.
۲۳
ترك الدنيا . وَقَالَ فِي مَوْضِعِ آخر : الراي ترك الزينَةِ، وَالهَاء تَرُكُ الهَوَى، وَالدَّالَ:
وَعَنْ حَامِدِ اللَّقَافِ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّهُ أَنَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ : أَوْصِنِي فَقَالَ: اجْعَلْ لِدِينِكَ غِلَامًا كَفِلَافِ المُصْحَفِ ، قِيلَ لَهُ : مَا غِلَافُ الدِّينِ؟ قَالَ لَهُ : تَرَكُ الكَلَامِ إِلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ، وَتَرْكُ الدُّنْيا إِلَّا ما لا بُدَّ مِنْهُ، وَتَرْكُ مُخَالَطَةِ النَّاسِ إِلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ.
(و) المقالة الثالثة والثلاثون عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال: الزهد ثلاثة أحرف زاي وهاء ودال، فالزاي زاد للمعاد) أي للآخرة وهو تقوى الله تعالى والهاء هدى للدين أي سلوك طريق يوصل إلى الطريقة المحمدية (والدال دوام على الطاعة).
(و) المقالة الرابعة والثلاثون (قال) أي ابن عباس (في موضع آخر 🙂 الزهد ثلاثة أحرف الزاي ترك الزينة، والهاء ترك الهوى أي محبوبات النفس والدال ترك الدنيا من ثناء الخلق ومن التنعم والتوسع في المأكل والمشارب والملابس والمساكن .
(و) المقالة الخامسة والثلاثون عن حامد اللقاف رحمه الله أنه أناه رجل فقال له: أوصني) أي بما ينفعني في الدين فقال : اجعل لدينك غلافاً كغلاف المصحف) وهو ما يصونه عن الدنس (قيل له: ما غلاف الدين فالشريعة من حيث إنها تطاع تسمى ديناً ومن حيث إنها تجمع تسمى ملة ومن حيث إنها يرجع إليها تسمى مذهباً (قال له 🙂 غلاف الدين ترك الكلام إلا ما لا بد منه) وهو ما لا يحصل المقصود من أمور الدنيا إلا به. قال سليمان عليه السلام أو لقمان: إذا كان الكلام من فضة كان السكوت من ذهب والمعنى إذا كان الكلام في الخير كالفضة حسناً كان السكوت عن الشر كالذهب في الحسن اهـ.
والساكت في الحق كالناطق في الباطل وترك الدنيا) من الأمتعة (إلا ما لا بد منه) وهو ما لا تحصل الحاجة إلا به وترك مخالطة الناس إلا ما لا بد من) وهو ما لا يحصل المطلوب إلا به.











