Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. Style dengan penangan "thickbox" telah dimasukkan ke dalam antrian dengan dependensi yang tidak terdaftar: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/saly4638/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Mutiara Hikmah Ibnu Abbas: Makna Huruf yang Menuntun Jiwa Menuju Surga

- Pewarta

Jumat, 20 Februari 2026 - 09:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ustad Moh. Junaidi Rahman

Artikel, Salam News. Id – Riwayat dari Ibnu Abbas menyimpan mutiara hikmah tentang makna huruf dalam kehidupan seorang mukmin sejati. Beliau menjelaskan bahwa setiap huruf mengandung pesan mendalam bagi perjalanan ruhani manusia menuju kebahagiaan akhirat.

Kata الرَّهْدُ (ar-rahd) dalam bahasa Arab secara umum memiliki makna kelapangan, kemudahan, atau keluasan hidup. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan keadaan yang nyaman, luas, dan penuh kecukupan.

Ucapan KPU-HPN 2025

Kata “rahd” menurut beliau terdiri dari tiga huruf bermakna simbolis dan penuh pelajaran spiritual. Huruf pertama adalah ra, melambangkan rezeki untuk akhirat yang harus dipersiapkan setiap hamba beriman.

Rezeki akhirat bukan berupa harta, melainkan amal saleh yang menguatkan kedudukan di hadapan Allah. Huruf kedua adalah ha, yang berarti petunjuk dalam menjalani agama secara benar.

Petunjuk agama menuntun manusia mengikuti jalan Rasulullah dan menjauhi kesesatan yang membinasakan. Huruf ketiga adalah dal, yang bermakna ketekunan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.

Ketekunan menunjukkan konsistensi, tidak mudah goyah oleh godaan dunia yang memalingkan hati. Ibnu Abbas juga menyampaikan makna lain dari huruf-huruf tersebut dalam riwayat berbeda. Ra dimaknai sebagai meninggalkan perhiasan dunia yang melalaikan hati manusia.

Ha diartikan sebagai meninggalkan keinginan berlebihan yang memperbudak jiwa. Dal dijelaskan sebagai ketaatan yang terus-menerus tanpa mengenal kelelahan spiritual, makna tersebut mengajarkan bahwa kesalehan lahir dari pengendalian diri dan ketekunan.

Kesalehan bukan hanya penampilan luar, melainkan sikap batin yang bersih. Riwayat lain menyebutkan bahwa kesalehan terdiri dari tiga huruf bermakna mendalam. Zay melambangkan bekal akhirat berupa ketakwaan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Ketakwaan menjadi fondasi utama agar amal diterima dan hidup diberkahi. Ha dalam riwayat tersebut berarti petunjuk mengikuti jalan Nabi Muhammad, mengikuti sunnah Rasul menjadi cahaya penuntun menuju keselamatan dunia akhirat.

Dal kembali dimaknai sebagai ketekunan dalam ketaatan tanpa henti. Ketekunan menjaga hati agar tidak tergelincir oleh hawa nafsu, dalam riwayat lainnya, zay berarti meninggalkan perhiasan dunia.

Perhiasan dunia seringkali menipu dan mengaburkan tujuan hidup sejati. Ha dimaknai meninggalkan hawa nafsu yang dicintai jiwa manusia, hawa nafsu jika diikuti akan menjauhkan hati dari cahaya petunjuk.

Dal diartikan sebagai meninggalkan dunia, termasuk mencari pujian manusia, mencari pujian hanya menumbuhkan riya dan merusak keikhlasan ibadah. Ibnu Abbas menekankan pentingnya hidup sederhana dan tidak berlebihan.

Baca Juga :  PENTINGNYA INTEGRITAS BAGI SEORANG PEMIMPIN

Kemewahan dalam makanan, pakaian, dan tempat tinggal sering melahirkan kelalaian, sikap zuhud bukan berarti miskin, tetapi tidak terikat pada dunia. Selain Ibnu Abbas, Hamid al-Laqqaf juga memberikan nasihat berharga.

Suatu hari seorang lelaki datang meminta nasihat untuk agamanya. Hamid al-Laqqaf menjawab dengan kalimat singkat namun penuh makna, beliau berkata, jadikan agamamu memiliki penutup seperti Al-Qur’an.

Penutup agama dimaksudkan sebagai penjaga dari pencemaran dosa dan kelalaian, lelaki tersebut bertanya, apakah yang dimaksud penutup agama itu, beliau menjelaskan bahwa agama harus dijaga dengan pengendalian diri.

Menahan diri dari berbicara kecuali yang diperlukan adalah penjagaan pertama, ucapan yang tidak perlu sering menimbulkan dosa dan perselisihan, beliau mengingatkan bahwa diam terkadang lebih mulia daripada berbicara.

Perkataan bijak menyebutkan bahwa berbicara adalah perak dan diam emas. Maksudnya, kebaikan dalam ucapan bernilai tinggi, namun diam dari keburukan lebih utama, namun diam dari kebenaran sama buruknya dengan berkata dusta.

Karena itu, kebijaksanaan diperlukan untuk menentukan kapan berbicara atau diam. Penutup agama berikutnya adalah menahan diri dari harta dunia berlebihan, harta diperlukan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang wajar.

Ketamakan terhadap harta menumbuhkan keserakahan dan melupakan tujuan akhirat, nasihat ketiga adalah menahan diri dari pergaulan tidak perlu, pergaulan berlebihan sering menyeret manusia pada kelalaian dan dosa.

Bergaullah seperlunya demi kebaikan dan tujuan yang jelas, semua nasihat tersebut mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam hidup. Agama dijaga dengan pengendalian lisan, harta, dan pergaulan.

Ketiga hal itu menjadi pagar kokoh bagi iman seorang mukmin, jika lisan terjaga, hati pun akan lebih bersih, jika harta terkendali, jiwa menjadi lebih lapang dan tenang.

Jika pergaulan terpilih, langkah hidup lebih terarah, pesan Ibnu Abbas dan Hamid al-Laqqaf saling melengkapi, keduanya menekankan pentingnya meninggalkan hal berlebihan demi keselamatan akhirat.

Kesalehan dibangun dari huruf-huruf makna yang dipraktikkan dalam keseharian, huruf-huruf tersebut menjadi simbol perjalanan ruhani manusia. Rezeki akhirat, petunjuk agama, dan ketekunan adalah kunci utama.

Meninggalkan perhiasan, hawa nafsu, dan pujian adalah benteng hati, menjaga lisan, harta, dan pergaulan adalah penutup agama, semua ajaran tersebut menuntun manusia menuju kehidupan lebih bermakna, dengan mengamalkannya, seorang mukmin meraih ketenangan batin sejati.(Red/Part.19)Edisi Ramadhan 2026

Refrensi Kajian,

Kitab Nashaihul Ibad

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ : الرَّهْدُ ثَلَاثَةُ أَحْرُفٍ : رَايِّ، وَهَاءَ وَدَالٌ، فَالزَّايِّ : زَادٌ لِلْمَعَادِ، وَالهَاءُ : هُدًى لِلدِّينِ، وَالدَّالَ : دَوَامٌ عَلَى الطَّاعَةِ.

Baca Juga :  Perjalanan Hidup dan Makna Kematian menurut Kang Juned Al Baudadi: Sebuah Renungan Filosofis

۲۳

ترك الدنيا . وَقَالَ فِي مَوْضِعِ آخر : الراي ترك الزينَةِ، وَالهَاء تَرُكُ الهَوَى، وَالدَّالَ:

وَعَنْ حَامِدِ اللَّقَافِ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّهُ أَنَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ : أَوْصِنِي فَقَالَ: اجْعَلْ لِدِينِكَ غِلَامًا كَفِلَافِ المُصْحَفِ ، قِيلَ لَهُ : مَا غِلَافُ الدِّينِ؟ قَالَ لَهُ : تَرَكُ الكَلَامِ إِلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ، وَتَرْكُ الدُّنْيا إِلَّا ما لا بُدَّ مِنْهُ، وَتَرْكُ مُخَالَطَةِ النَّاسِ إِلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ.

(و) المقالة الثالثة والثلاثون عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال: الزهد ثلاثة أحرف زاي وهاء ودال، فالزاي زاد للمعاد) أي للآخرة وهو تقوى الله تعالى والهاء هدى للدين أي سلوك طريق يوصل إلى الطريقة المحمدية (والدال دوام على الطاعة).

(و) المقالة الرابعة والثلاثون (قال) أي ابن عباس (في موضع آخر 🙂 الزهد ثلاثة أحرف الزاي ترك الزينة، والهاء ترك الهوى أي محبوبات النفس والدال ترك الدنيا من ثناء الخلق ومن التنعم والتوسع في المأكل والمشارب والملابس والمساكن .

(و) المقالة الخامسة والثلاثون عن حامد اللقاف رحمه الله أنه أناه رجل فقال له: أوصني) أي بما ينفعني في الدين فقال : اجعل لدينك غلافاً كغلاف المصحف) وهو ما يصونه عن الدنس (قيل له: ما غلاف الدين فالشريعة من حيث إنها تطاع تسمى ديناً ومن حيث إنها تجمع تسمى ملة ومن حيث إنها يرجع إليها تسمى مذهباً (قال له 🙂 غلاف الدين ترك الكلام إلا ما لا بد منه) وهو ما لا يحصل المقصود من أمور الدنيا إلا به. قال سليمان عليه السلام أو لقمان: إذا كان الكلام من فضة كان السكوت من ذهب والمعنى إذا كان الكلام في الخير كالفضة حسناً كان السكوت عن الشر كالذهب في الحسن اهـ.

والساكت في الحق كالناطق في الباطل وترك الدنيا) من الأمتعة (إلا ما لا بد منه) وهو ما لا تحصل الحاجة إلا به وترك مخالطة الناس إلا ما لا بد من) وهو ما لا يحصل المطلوب إلا به.

Berita Terkait

Harlah ke-66 PMII: Meneguhkan Peran Intelektual, Membangun Peradaban Bangsa
Takziyah dan Tahlilan: Antara Sunnah, Tradisi, dan Perbedaan Ulama
Lebaran di Sumenep Harmoni Silaturahmi, Tradisi, dan Refleksi Spiritual yang Mengakar
Khidmat dan Haru, Shalat Idul Fitri 1447 H di Masjid Jamik Sumenep Dipenuhi Ribuan Umat
Gema Takbir Menggetarkan Sumenep, Wakil Bupati Sumenep Resmi Buka Malam Takbiran Penuh Kebersamaan
Makna Idul Fitri 2026: Refleksi Spiritual, Sejarah Perjuangan, dan Indahnya Silaturahmi
Perbedaan Lebaran hingga 3 Hari, Wajarkah? Ini Penjelasan Ustad Juneid yang Bikin Terang
Mendung Tutupi Langit Tanaros, Hilal Tak Terlihat di Sumenep Meski Sudah di Atas Ufuk

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 15:37 WIB

Harlah ke-66 PMII: Meneguhkan Peran Intelektual, Membangun Peradaban Bangsa

Selasa, 14 April 2026 - 09:24 WIB

Takziyah dan Tahlilan: Antara Sunnah, Tradisi, dan Perbedaan Ulama

Minggu, 22 Maret 2026 - 21:54 WIB

Lebaran di Sumenep Harmoni Silaturahmi, Tradisi, dan Refleksi Spiritual yang Mengakar

Sabtu, 21 Maret 2026 - 10:48 WIB

Khidmat dan Haru, Shalat Idul Fitri 1447 H di Masjid Jamik Sumenep Dipenuhi Ribuan Umat

Sabtu, 21 Maret 2026 - 00:14 WIB

Gema Takbir Menggetarkan Sumenep, Wakil Bupati Sumenep Resmi Buka Malam Takbiran Penuh Kebersamaan

Jumat, 20 Maret 2026 - 21:57 WIB

Makna Idul Fitri 2026: Refleksi Spiritual, Sejarah Perjuangan, dan Indahnya Silaturahmi

Jumat, 20 Maret 2026 - 13:51 WIB

Perbedaan Lebaran hingga 3 Hari, Wajarkah? Ini Penjelasan Ustad Juneid yang Bikin Terang

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:53 WIB

Mendung Tutupi Langit Tanaros, Hilal Tak Terlihat di Sumenep Meski Sudah di Atas Ufuk

Berita Terbaru