Sumenep, Salam News. Id – Pemerintah Kabupaten Sumenep kembali menggelar Haul Raja-Raja se-Madura di Pendopo Agung Keraton Sumenep, Minggu malam yang penuh khidmat. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep yang sarat nilai sejarah dan budaya.
Acara tersebut menggabungkan unsur religius dan tradisi lokal, mencerminkan harmoni antara warisan spiritual dan kebesaran peradaban masa lalu Madura.Ribuan jamaah dan tokoh masyarakat hadir memenuhi area pendopo untuk ikut berdoa bersama mengenang jasa para raja Madura terdahulu.
Suasana syahdu terasa sejak awal prosesi, ketika pembacaan Surah Al-Fatihah dipimpin oleh KHR. Taufiqurrahman Syakur dengan penuh khusyuk. Selanjutnya, istigasah dilantunkan oleh KH. Abdullah Holil diikuti tahlil yang dipimpin KH. Ali Fiqri Abdullah dengan bacaan merdu dan menenangkan.

Rangkaian doa tersebut menghadirkan ketenangan spiritual yang memperkuat rasa cinta masyarakat terhadap sejarah dan nilai-nilai keislaman Madura. Setelah itu, lantunan selawat bergema di seluruh penjuru pendopo, menciptakan suasana religius yang semakin mempererat batin seluruh jamaah.
Puncak acara ditandai dengan ceramah agama yang disampaikan Habib Muhammad As-Segaf, penuh makna dan ajakan introspeksi bagi umat Islam. Beliau menekankan pentingnya menghargai jasa para leluhur yang telah berjuang membangun pondasi pemerintahan dan kehidupan masyarakat Madura.
Acara ditutup dengan doa penutup yang dibacakan Habib Alwi Zainal Abidin Bilfaqih dan KH. Ach. Sa’duddin secara bergantian penuh kekhusyukan. Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, dalam sambutannya menyampaikan makna mendalam dari penyelenggaraan Haul Raja-Raja se-Madura tahun ini.
Menurutnya, haul bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi momentum penting untuk meneladani perjuangan dan kebijaksanaan para raja Madura terdahulu. “Haul ini bukan hanya mengenang jasa para raja, tetapi juga mengingatkan kita agar tidak melupakan akar sejarah bangsa,” ujar Bupati.
Ia menambahkan bahwa semangat para raja Madura patut dijadikan inspirasi dalam membangun daerah yang berlandaskan nilai religius dan persaudaraan. Lebih lanjut, Bupati Fauzi menjelaskan bahwa kejayaan Sumenep dan kabupaten lain di Madura lahir dari doa serta perjuangan para leluhur.
“Sumenep berdiri kokoh karena dibangun dengan pengorbanan dan kebijaksanaan para raja, yang mengedepankan persatuan dan kesejahteraan rakyat,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat agar terus menjaga kerukunan, persaudaraan, serta kecintaan terhadap daerah sebagai bentuk rasa syukur. Menurut Bupati, menjaga nilai religius, budaya, dan gotong royong merupakan cara terbaik menghormati jasa para pendahulu Madura yang berjasa besar.
“Kami ingin semangat kebersamaan masyarakat Madura tetap abadi, karena kita berasal dari akar sejarah dan budaya yang sama,” tegasnya. Ia berharap Haul Raja-Raja se-Madura dapat memperkuat rasa cinta generasi muda terhadap sejarah dan memperkokoh jati diri masyarakat Sumenep.
Melalui kegiatan ini, Bupati berharap nilai keislaman dan budaya lokal terus menjadi pedoman hidup dalam membangun masa depan yang beradab. “Sebagai penerus pembangunan, penting bagi kita meneladani perjuangan dan kearifan para leluhur dalam memajukan Madura,” pungkasnya penuh harap.
Acara haul ditutup dengan doa bersama dan pembacaan syair pujian, menggetarkan hati seluruh hadirin yang larut dalam suasana haru dan bangga. Haul Raja-Raja se-Madura menjadi wujud nyata bagaimana masyarakat Sumenep menjaga warisan spiritual dan budaya yang diwariskan para leluhur.
Momentum ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Madura untuk terus memperkuat persatuan dan semangat gotong royong sepanjang masa.(*)











