Jakarta, Salam News. Id – Lembaga Falakiyah PBNU kembali mempublikasikan hasil perhitungan hilal menjelang penetapan awal Dzulhijjah 1447 Hijriah untuk masyarakat Indonesia pada pekan ini. Informasi tersebut diterima kalangan warga Nahdlatul Ulama melalui laporan resmi yang disampaikan NU Online pada Rabu kemarin kepada publik nasional.Rabu (13/5/2026).
Perhitungan hisab dilaksanakan menggunakan metode falak kontemporer khas Nahdlatul Ulama dengan markaz pengamatan berada kawasan Jakarta Pusat milik organisasi tersebut. Lokasi penghitungan astronomi dilakukan tepatnya di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya menggunakan koordinat resmi untuk kepentingan pengamatan hilal nasional bersama.
Hasil hisab menunjukkan ketinggian hilal akhir Dzulqadah mencapai empat derajat lebih dengan elongasi memenuhi standar pengamatan nasional yang berlaku sekarang. Data astronomi juga memperlihatkan hilal bertahan diatas ufuk selama puluhan menit setelah Matahari terbenam pada pengamatan nasional akhir pekan mendatang.

Selain ketinggian hilal LF PBNU turut mencatat waktu terjadinya ijtimak sebelum proses pemantauan hilal dilaksanakan nasional secara serentak besok sore. Posisi Matahari ketika terbenam berada dibagian utara titik barat sedangkan hilal tampak lebih tinggi dibandingkan Matahari menurut data falak terbaru.
Kedudukan hilal terhadap Matahari menunjukkan jarak sudut cukup besar sehingga peluang terlihatnya hilal semakin terbuka luas bagi pemantau nasional nanti. Wilayah dengan parameter hilal terkecil berada di Merauke Papua Selatan namun tetap memenuhi ketentuan imkanur rukyah nasional menurut perhitungan astronomi.
Ketinggian hilal di Merauke tercatat mencapai lebih tiga derajat dengan elongasi mendekati sembilan derajat saat pengamatan berlangsung pada akhir sore. Sementara itu wilayah Sabang Aceh mencatat parameter hilal tertinggi dibandingkan daerah lainnya dalam pengamatan astronomi nasional terbaru yang dipublikasikan resmi.
Data Sabang menunjukkan ketinggian hilal hampir tujuh derajat dengan lama terlihat diatas ufuk mencapai lebih setengah jam saat pengamatan berlangsung. Besarnya elongasi hilal di Aceh bahkan memenuhi ketentuan qathiyu rukyah Nahdlatul Ulama sehingga peluang terlihat semakin besar pada pengamatan mendatang.
Kondisi tersebut memperkuat kemungkinan masuknya bulan baru Dzulhijjah sehari berikutnya setelah proses rukyatul hilal resmi dilaksanakan oleh petugas diberbagai daerah. BMKG turut mengeluarkan informasi prakiraan hilal penentu awal Dzulhijjah melalui laporan astronomi resmi untuk masyarakat Indonesia menjelang sidang isbat nasional.
Dalam laporan tersebut BMKG menjelaskan konjungsi terjadi pada Ahad dinihari sebelum Matahari terbenam di seluruh Indonesia pada pertengahan Mei mendatang. Waktu Matahari terbenam paling awal terjadi di Merauke Papua sedangkan paling akhir berlangsung di Sabang Aceh sore hari pengamatan nasional.
BMKG menyebut konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam sehingga syarat astronomis penentuan awal bulan baru dinilai telah terpenuhi diseluruh wilayah Indonesia. Ketinggian hilal berdasarkan pengamatan BMKG berkisar antara tiga hingga hampir tujuh derajat diberbagai daerah Indonesia saat pengamatan resmi dilakukan bersama.
Sementara elongasi geosentris hilal tercatat berada diatas delapan derajat hingga lebih sepuluh derajat menurut data BMKG terbaru untuk wilayah Indonesia. Umur bulan ketika Matahari terbenam juga dinilai cukup matang sehingga memperbesar kemungkinan hilal dapat diamati masyarakat Indonesia pada pengamatan resmi.
Lama hilal berada diatas ufuk tercatat mencapai belasan hingga puluhan menit berdasarkan perhitungan astronomi resmi BMKG terbaru yang dipublikasikan kemarin. Keseluruhan data astronomi memperlihatkan potensi besar penetapan awal Dzulhijjah segera diumumkan pemerintah setelah sidang isbat nasional digelar bersama berbagai pihak.
Apabila keputusan tersebut ditetapkan Idul Adha 1447 Hijriah diperkirakan berlangsung akhir Mei mendatang serentak seluruh Indonesia sesuai kalender pemerintah nasional.(**/Red)











