Jatim, Salam News, Id – Dinamika politik nasional dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan wajah yang semakin rumit dan penuh kontradiksi di berbagai lini kehidupan bernegara. Stabilitas politik sering dipersepsikan sebagai keberhasilan pemerintah menjaga kesinambungan kekuasaan melalui koalisi besar dan konsolidasi elite politik nasional.
Namun stabilitas tersebut tidak selalu sejalan dengan penguatan demokrasi substantif dan kerap mengorbankan fungsi pengawasan yang seharusnya berjalan efektif.Ruang oposisi yang semestinya menjadi penyeimbang kekuasaan justru semakin menyempit, sehingga kritik konstruktif sering kehilangan daya tekan politiknya.
Kondisi ini berimplikasi pada menurunnya kualitas perdebatan kebijakan publik yang idealnya berbasis gagasan, data, dan kepentingan masyarakat luas. Politik kemudian lebih sering dipahami sebagai arena kompromi kekuasaan daripada ruang adu visi pembangunan jangka panjang yang berorientasi rakyat.

Logika transaksional perlahan menggantikan logika kebijakan, sehingga keputusan politik cenderung pragmatis dan berjangka pendek.Akibatnya, sejumlah kebijakan publik lahir tanpa fondasi riset yang kuat serta minim pendekatan berbasis bukti dan evaluasi akademik.
Kebijakan yang seharusnya menjadi jembatan antara negara dan warga justru sering terjebak pada kepentingan simbolik dan pencitraan. Program pemerintah kerap diluncurkan dengan narasi besar, namun tidak selalu diiringi kesiapan institusi pelaksana dan sumber daya manusia.
Di tingkat implementasi, masalah klasik seperti tumpang tindih kewenangan antarinstansi masih terus berulang dan belum tertangani optimal. Koordinasi birokrasi yang lemah menyebabkan efektivitas kebijakan menurun dan manfaatnya tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Minimnya partisipasi publik dalam perumusan kebijakan juga membuat aspirasi warga sering terpinggirkan dalam proses pengambilan keputusan. Kebijakan akhirnya berjalan sebagai rutinitas administratif semata, bukan sebagai instrumen strategis perubahan sosial yang berkelanjutan.
Situasi politik dan kebijakan tersebut berdampak langsung pada arah dan kualitas pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan. Secara makro, pemerintah kerap menampilkan indikator pertumbuhan ekonomi yang positif sebagai bukti keberhasilan pembangunan.
Namun pertumbuhan yang terlalu berorientasi angka sering menutupi persoalan struktural yang masih mengakar dalam perekonomian nasional. Ketimpangan ekonomi antarwilayah dan kelompok sosial tetap menjadi tantangan serius yang belum sepenuhnya teratasi secara sistemik.
Sektor informal yang menopang sebagian besar tenaga kerja nasional masih berada dalam kondisi rentan tanpa perlindungan memadai. Kebijakan ekonomi yang pro investasi memang penting, tetapi memerlukan pengawasan ketat agar tidak merugikan masyarakat lokal.
Deregulasi tanpa kontrol berpotensi memicu eksploitasi sumber daya alam dan memperparah degradasi lingkungan hidup. Negara idealnya tidak hanya berperan sebagai fasilitator pasar, tetapi juga regulator yang menjamin keadilan sosial berkelanjutan.
Tantangan ke depan terletak pada pembangunan ekosistem kebijakan yang akuntabel, inklusif, dan berpihak pada kepentingan publik. Tanpa perbaikan tata kelola politik dan birokrasi, kebijakan publik berisiko kehilangan legitimasi sosial dan kepercayaan masyarakat.
Kepercayaan publik yang melemah dapat membuat arah pembangunan ekonomi rapuh dan sulit menopang stabilitas nasional jangka panjang.(Red)











