Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/saly4638/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Dosa dan Penyesalan: Menjaga Hati Agar Selalu Kembali pada Allah

- Pewarta

Kamis, 27 Februari 2025 - 17:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ustad Juneid

Salam News. Id – Dalam riwayat sebagian ulama zuhud, terdapat sebuah pernyataan yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga diri dari dosa. Dikatakan bahwa, “Barangsiapa yang berbuat dosa sambil tertawa, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka sambil menangis.” Pernyataan ini memberikan pelajaran penting bahwa dosa yang dilakukan tanpa penyesalan atau perasaan malu bisa mengarah pada azab yang berat di akhirat. Sebaliknya, “Barangsiapa yang berbuat dosa sambil menangis, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sambil tertawa,” mengajarkan kita untuk selalu bertaubat dengan tulus dan penuh penyesalan.

Penting untuk memahami bahwa dosa kecil yang terus-menerus dilakukan bisa menjadi batu loncatan bagi dosa-dosa yang lebih besar. Ada orang bijak yang pernah berkata, “Jangan meremehkan dosa-dosa kecil. Karena dosa-dosa besar bercabang dari situ.” Oleh karena itu, meski dosa yang dilakukan terasa kecil, jangan pernah merasa aman, karena setiap dosa bisa memperbesar beban kita di hadapan Allah SWT. Kesadaran ini seharusnya menjadi pengingat agar kita selalu berhati-hati dalam setiap langkah kehidupan.

Ucapan KPU-HPN 2025

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dosa kecil jika terus-menerus berbuat dosa, dan tidak ada dosa besar jika beristighfar.” Hadits ini mengajarkan kita bahwa dosa tidak hanya diukur dari seberapa besar atau kecilnya, tetapi lebih pada kesungguhan dalam bertaubat. Seorang hamba yang menyadari kesalahan dan beristighfar dengan tulus akan diampuni oleh Allah, tidak peduli seberapa besar dosa yang telah diperbuat. Ini menekankan pentingnya niat dan upaya untuk kembali ke jalan yang benar.

Salah satu konsep yang perlu dipahami dalam kehidupan beragama adalah zuhud, yaitu sikap yang menjauhkan diri dari kecintaan berlebihan terhadap dunia. Dikatakan bahwa orang yang zuhud memandang rendah dunia dan tidak mempedulikannya. Mereka hanya mengambil apa yang dibutuhkan dari dunia ini dan tidak terikat dengan kemewahan atau kesenangan duniawi. Dalam hal ini, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi lebih kepada bagaimana mengendalikan diri dan menjauhi hawa nafsu yang dapat menjerumuskan pada perbuatan dosa.

Dalam pasal kesepuluh, dijelaskan bahwa orang yang berbuat dosa sambil tertawa, merasa senang dengan perbuatannya, akan mendapatkan balasan yang berat dari Allah. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka dalam keadaan menangis, sebuah konsekuensi dari ketidaksadaran atas dosa yang telah dilakukan. Sebaliknya, mereka yang berbuat dosa namun menangis, merasakan penyesalan dan takut kepada Allah, akan mendapatkan ampunan-Nya dan dimasukkan ke dalam surga dalam keadaan bahagia dan tertawa, merasakan nikmat yang telah dijanjikan-Nya.

Baca Juga :  Dari Pendopo Agung, Sumenep Bersatu Meneladani Cinta dan Kasih Rasulullah

Pasal sebelas mengingatkan kita tentang kebijaksanaan dalam menghadapi dosa, terutama dosa kecil. “Jangan meremehkan dosa-dosa kecil,” kata sebagian orang bijak. Bahkan dosa-dosa kecil yang dianggap ringan bisa menjadi penyebab murka Allah jika dilakukan terus-menerus tanpa penyesalan. Dosa kecil yang sering dilakukan tanpa sadar bisa menggiring seseorang pada dosa besar yang lebih berbahaya. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berhati-hati dan menjaga diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan dosa.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Daylami, Rasulullah SAW mengatakan, “Tidak ada dosa kecil bersama kegigihan.” Maksudnya adalah jika seseorang terus-menerus melakukan dosa, meski dosa tersebut kecil, maka ia akan menjadi besar akibat kebiasaan buruk yang diperbuat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menghindari kebiasaan buruk, apalagi yang melibatkan dosa kecil. Ketika dosa menjadi kebiasaan, maka dampaknya bisa sangat merugikan bagi kehidupan spiritual kita.

Sebaliknya, “Tidak ada dosa besar bersama keingintahuan,” yaitu taubat yang dilakukan dengan syarat-syarat yang benar akan menghapus dosa, meskipun dosa itu besar. Taubat yang tulus akan membersihkan hati dan menyelamatkan kita dari dosa-dosa yang telah diperbuat, baik besar maupun kecil. Oleh karena itu, jangan pernah merasa putus asa untuk bertaubat, karena Allah adalah Maha Pengampun dan penerima taubat hamba-Nya yang kembali kepada-Nya.

Dalam pasal ketiga belas, dijelaskan tentang perhatian orang arif dan orang zuhud. Orang arif memuji Allah atas sifat-sifat-Nya yang indah dan sempurna, sedangkan orang zuhud lebih fokus pada doa dan permohonan kebaikan dari Allah. Keduanya memiliki perhatian yang berbeda. Orang arif cenderung lebih fokus pada Tuhannya, sementara orang zuhud lebih memperhatikan kebaikan untuk dirinya, seperti pahala dan surga.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa tujuan hidup orang-orang beriman seharusnya tidak hanya terbatas pada pencapaian pahala atau surga semata. Sebagai hamba Allah, kita harus memiliki niat yang ikhlas dan selalu mengingat-Nya dalam setiap tindakan, baik itu berdoa, beribadah, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Mengutamakan hubungan yang tulus dengan Allah akan membawa kita pada kehidupan yang lebih bermakna dan penuh berkah.

Sebagai kesimpulan, menjaga diri dari dosa kecil dan berusaha untuk selalu bertaubat dengan tulus adalah kunci untuk meraih ampunan dan rahmat Allah SWT. Jangan pernah meremehkan dosa, sekecil apapun itu, karena setiap dosa bisa mengarah pada dosa yang lebih besar. Teruslah menjaga niat dan berdoa kepada Allah agar senantiasa diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menjalani hidup yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan.(Red/Part 3)

Refrensi kajian,
Kitab Nashaihul Ibad

وَعَنْ بَعْضِ الزَّهَادِ : مَنْ أَذْنَبَ ذَنْباً وَهُوَ يَضْحَكُ فَإِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُهُ النَّارَ وَهُوَ يبْكِي، وَمَنْ أَطَاعَ وَهُوَ يَبْكِي فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْخِلُهُ الجَنَّةَ وَهُوَ يَضْحَكُ .

Baca Juga :  Mencari Ketenangan Dalam Kesunyian Hati

وَمَنْ بَعْضِ الحُكْمَاءِ: لَا تَحْقِرُوا الذُّنُوبَ الصَّغَارُ؛ فَإِنَّهَا تَتَشَعْبُ مِنْهَا الذُّنُوبُ الكِبَارُ .

وَعَنْ النَّبِيِّ : لَا صَغِيرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ، وَلَا كَبِيرَةَ مَعَ الاسْتِغْفَارِ». وَقِيلَ: هُمُ العَارِفِ الثَّنَاءُ، وَهُمُ الزَّاهِدِ الدُّعَاءُ؛ لأَنَّ هَمَّ العَارِفِ رَبُّهُ، وَهُمْ الزاهد نفسه.

(و) المقالة العاشرة (عن بعض الزهاد) وهم الذين احتقروا الدنيا ولم يبالوا بها بل أخذوا منها قدر ضرورتهم من أذنب ذنباً) أي تحمله وهو يضحك) أي والحال أنه يفرح بتحمله فإن الله يدخله النار وهو يبكي لأن حقه أن يندم ويستغفر الله تعالى لذلك ومن أطاع وهو يبكي حياء من الله تعالى وخوفاً منه تعالى على تقصيره في تلك الطاعة فإن الله تعالى يدخله الجنة وهو يضحك) أي يفرح غاية الفرح الحصول مطلوبه وهو عفو الله تعالى.

(و) المقالة الحادية عشرة عن بعض الحكماء) أي الأولياء لا تحقروا الذنوب الصغار) أي لا تعدوها صغاراً فإنها تتشعب منها الذنوب الكبار وأيضاً ربما يكون غضب الله تعالى في تلك الصغار.

(و) المقالة الثانية عشرة عن النبي : لا صَغِيرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ) فإنها بالمواظبة عليها تعظم فتصير كبيرة، وأيضاً أنها على عزم استدامتها تصير كبيرة فإن نية المرء في المعاصي كانت معصية (وَلَا كَبِيرَةَ مَعَ الاِسْتِغْفَارِ) أي التوبة بشروطها فإن التوبة تمحو أثر الخطيئة وإن كانت كبيرة. روى هذا الحديث الديلمي عن ابن عباس لكن بتقديم الجملة الأخيرة عن الأولى.

(و) المقالة الثالثة عشرة (قيل : هم العارف الثناء) أي مراد العارف بالله الثناء على الله تعالى بجميل صفاته وهم الزاهد الدعاء) أي مراد المعرض عن الزائد على قدر الحاجة من الدنيا بقلبه الدعاء وهو التضرع إلى الله تعالى بسؤال ما عنده من الخير الأن هم العارف ربه لا الثواب ولا الجنة (وهم الزاهد نفسه) أي منفعة نفسه من الثواب والجنة، ففرق بين من همته الحور ومن همته رفع الستور

Berita Terkait

Gemuruh Ramadhan di Masjid Miftahul Jannah, Malam Puncak Lomba Islami Berlangsung Meriah
Bupati Fauzi Santuni Anak Yatim di Kantor BAZNAS, Ramadan Jadi Momentum Menguatkan Kepedulian Sosial
Amal yang Diterima, Taubat yang Tulus, dan Akhir yang Indah
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo Bersama Ribuan Jamaah Gelar Lautan Sholawat di Taman Potre Koneng, Refleksi Kepemimpinan Fauzi–Imam
Tiga Amalan Penyehat Akal dan Penjaga Jiwa: Hikmah Ali bin Abi Talib hingga Ka’b al-Ahbar
Hidup Sederhana, Hati Mulia: Hakikat Asketisme Seorang Mukmin
Mutiara Hikmah Ibnu Abbas: Makna Huruf yang Menuntun Jiwa Menuju Surga
Tiga Perenungan Ibrahim bin An’am: Jalan Sunyi Menuju Ketenangan Batin Sejati

Berita Terkait

Jumat, 6 Maret 2026 - 13:03 WIB

Gemuruh Ramadhan di Masjid Miftahul Jannah, Malam Puncak Lomba Islami Berlangsung Meriah

Senin, 2 Maret 2026 - 21:13 WIB

Amal yang Diterima, Taubat yang Tulus, dan Akhir yang Indah

Senin, 2 Maret 2026 - 11:29 WIB

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo Bersama Ribuan Jamaah Gelar Lautan Sholawat di Taman Potre Koneng, Refleksi Kepemimpinan Fauzi–Imam

Minggu, 22 Februari 2026 - 14:16 WIB

Tiga Amalan Penyehat Akal dan Penjaga Jiwa: Hikmah Ali bin Abi Talib hingga Ka’b al-Ahbar

Sabtu, 21 Februari 2026 - 09:42 WIB

Hidup Sederhana, Hati Mulia: Hakikat Asketisme Seorang Mukmin

Jumat, 20 Februari 2026 - 09:34 WIB

Mutiara Hikmah Ibnu Abbas: Makna Huruf yang Menuntun Jiwa Menuju Surga

Kamis, 19 Februari 2026 - 11:04 WIB

Tiga Perenungan Ibrahim bin An’am: Jalan Sunyi Menuju Ketenangan Batin Sejati

Rabu, 18 Februari 2026 - 12:02 WIB

Ramadhan 2026 Dimulai Berbeda: Timur Tengah Puasa Rabu, Asia Tenggara Kamis

Berita Terbaru