Oleh : Ustad Moh. Junaidi Rahman
Artikel. Salam News. Id – Asketisme adalah sikap hidup sederhana dan menahan diri dari kesenangan duniawi demi tujuan spiritual atau ketenangan batin. Secara umum, asketisme berarti:
- Mengurangi ketergantungan pada harta dan kemewahan
- Menahan hawa nafsu
- Memperbanyak ibadah dan perenungan
- Fokus pada kehidupan akhirat atau nilai-nilai spiritual
Hakikat asketisme bukan sekadar meninggalkan dunia, melainkan membersihkan diri dari segala larangan, kecil maupun besar, dengan kesadaran penuh. Seorang zahid sejati menjaga dirinya dari dosa tersembunyi, sebagaimana ia menjauhi pelanggaran yang tampak di mata manusia.

Ia melaksanakan seluruh kewajiban, baik yang ringan maupun yang berat, tanpa menunda dan tanpa mencari alasan pembenaran. Asketisme juga berarti menyerahkan urusan dunia kepada pemiliknya, tanpa keserakahan, tanpa ambisi berlebihan, dan tanpa ketergantungan.
Sikap ini melahirkan ketenangan batin, sebab hati tidak lagi terikat oleh pujian, harta, maupun kedudukan. Dalam nasihat para bijak, asketisme adalah jalan sunyi menuju kedekatan dengan Allah melalui ketaatan yang konsisten.
Diriwayatkan bahwa Luqman al-Hakim pernah menasihati putranya dengan perumpamaan yang menggugah jiwa. Ia berkata, manusia terbagi menjadi tiga bagian: milik Allah, milik dirinya sendiri, dan milik cacing.
Bagian yang menjadi milik Allah adalah ruh, yang kelak kembali kepada-Nya tanpa dapat ditahan. Bagian yang menjadi milik manusia sendiri adalah amal, yang akan kembali sebagai manfaat atau kerugian.
Sedangkan bagian yang menjadi milik cacing adalah tubuh, yang akan hancur dimakan tanah. Perumpamaan ini mengajarkan bahwa tubuh hanyalah titipan sementara, bukan sesuatu yang layak dibanggakan berlebihan.
Amal menjadi penentu sejati, sebab ia mengikuti manusia hingga hari perhitungan tanpa bisa dipisahkan. Ruh pun akan kembali kepada Sang Pencipta, membawa jejak pengabdian atau kelalaian selama kehidupan.
Nasihat itu menanamkan kesadaran bahwa dunia hanyalah persinggahan singkat sebelum perjalanan panjang akhirat. Guru para pencari jalan, Abdul Qadir al-Jilani, membagi manusia dalam empat golongan penting.
Pertama, orang tanpa lidah dan tanpa hati, tenggelam dalam dosa, kesombongan, serta kebodohan. Mereka tidak mengucapkan kebenaran dan tidak pula menyimpan cahaya iman dalam batin.
Bergaul dengan mereka berbahaya, sebab kelalaian mudah menular seperti api menyambar kering. Golongan kedua memiliki lidah tetapi tidak memiliki hati yang hidup oleh iman.
Mereka pandai berbicara hikmah, namun enggan mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Lisannya mengajak manusia menuju Allah, sementara dirinya sendiri jauh dari pengenalan sejati.
Kedekatan dengan tipe ini dapat menyeret seseorang pada kemunafikan yang halus namun menghancurkan. Golongan ketiga memiliki hati yang hidup, tetapi memilih diam dan menjaga lisannya.
Ia menyadari kelemahan diri, memperbaiki batin, serta berhati-hati dalam pergaulan. Orang seperti ini adalah sahabat Allah, dilindungi dari riya dan keburukan ucapan.
Mencari kedekatan dengannya menghadirkan keberkahan, karena hatinya memancarkan ketulusan dan cahaya petunjuk. Golongan keempat adalah mereka yang belajar, mengajar, serta mengamalkan ilmunya secara konsisten.
Mereka mengenal Allah melalui tanda-tanda kebesaran-Nya dan menjaga amanah ilmu dalam dada. Hatinya lapang menerima kebenaran, serta tegas menyampaikan nasihat tanpa takut celaan.
Menentang atau meremehkan nasihatnya dapat menutup pintu keberkahan yang terbuka lebar. Dasar asketisme sejati adalah menjauhi semua larangan, karena tanpa takwa jalan akan rapuh.
Orang yang meremehkan dosa kecil perlahan kehilangan kepekaan terhadap pelanggaran besar. Selain menjauhi larangan, asketisme menuntut pelaksanaan kewajiban secara utuh dan disiplin.
Taubat menjadi pintu awal, sebab tanpa kembali kepada Allah hati sulit dibersihkan. Taubat berarti memenuhi hak Tuhan dan meninggalkan kelalaian yang menggelapkan nurani.
Berpaling kepada-Nya adalah menghapus keraguan dan mengganti kegelisahan dengan keyakinan kokoh. Sikap puas terhadap ketentuan Allah menumbuhkan ketergantungan penuh hanya kepada-Nya.
Orang yang tidak puas akan terus mencari sandaran pada manusia dan dunia. Padahal bergantung kepada Allah berarti percaya sepenuhnya pada janji dan pertolongan-Nya.
Ia putus harap dari apa yang berada di tangan manusia, namun penuh harap kepada Tuhannya. Ketundukan lahir dari ketaatan terhadap perintah dan menjauhi segala yang tidak pantas.
Hati yang tunduk tidak mudah goyah oleh pujian ataupun celaan manusia. Ia meniti kehidupan dengan sederhana, tanpa berlebihan, namun penuh makna pengabdian.
Asketisme bukan mengasingkan diri sepenuhnya, melainkan menjaga hati di tengah keramaian dunia. Dengan demikian, seorang mukmin hidup seimbang, bekerja di dunia namun berorientasi akhirat.
Ia sadar tubuh akan kembali menjadi tanah, amal kembali kepadanya, dan ruh pulang kepada Allah. Kesadaran itu melahirkan kehati-hatian dalam bertindak, berbicara, dan menentukan pilihan hidup.
Maka barang siapa menapaki jalan ini dengan ikhlas, ia akan menemukan kedamaian sejati.(Red/Part.20) Edeisi Ramadhan 2026
Refrensi Kajian,
Kitab Nashaihul Ibad
ثمَّ اعْلَمُ: أَنْ أَصْلَ الزَّهْدِ: الاجْتِنَابُ عَنِ المَحَارِمِ كَبِيرِها وصغيرها، وأداء جَمِيعِ الفَرَائِضِ بَسِيرِهَا وَعَبِيرِهَا، وَتَرْكُ الدُّنْيَا عَلَى أَهْلِهَا قَلِيلِهَا وَكَثِيرِهَا . وَعَنْ أَعْمَانَ الحَكِيمِ أَنَّهُ قَالَ لَاتِيهِ : يَا بُنَيَّ إِنَّ النَّاسَ ثَلَاثَةُ أَثْلَاثٍ : قُلْتُ اللهِ، وَلكُ لِنَفْسِهِ، وَثل لِلدُّودِ: فَأَمَّا مَا هُوَ اللَّهِ فَرُوحُهُ، وَأَمَّا مَا هُوَ لِنَفْسِهِ فعمله، وَأَمَّا مَا هُوَ لِلدُّودِ فَجِسْمُهُ.
والناس تنقسم إلى أربعة أقسام كما قاله سيدي عبد القادر الجيلاني قدس سره: رجل لا لسان له ولا قلب وهو العاصي الغر الغبي، فاحذر أن تكون منهم ولا تقم فيهم فإنهم أهل العذاب، ورجل له لسان بلا قلب فينطق بالحكمة ولا يعمل بها، يدعو الناس إلى الله تعالى وهو يقر منه فأبعد منه لثلا يخطفك بلدية السانه متحرفك نار معاصيه ويقتلك نتن قلبه، ورجل له قلب بلا لسان وهو مؤمن ستره الله تعالى عن خلقه وبصره بعيوب نفسه ونور قلبه وعرفه غوائل مخالطة الناس وشؤم الكلام فهذا رجل ولي الله تعالى محفوظ في ستر الله تعالى، فالخير كل الخير عنده فدونك ومخالطته وخدمته فيحبك الله تعالى، ورجل تعلم وعلم وعمل بعلمه وهو العالم بالله تعالى وآياته استودع الله قلبه غرائب علمه وشرحصدره القبول العلوم فاحذر أن تخالفه وتجانبه وتترك الرجوع إلى نصيحته .
ثم اعلم أن أصل الزهد الاجتناب عن المحارم كبيرها وصغيرها) لأن من لا ورع له لا يصح له الزهد وأداء جميع الفرائض يسيرها وعسيرها) لأن من لا نوبة له لا تصبح له الإنابة فالتوبة هو القيام بكل حقوق الرب والإنابة هو إخراج القلب من ظلمات الشبهات وترك الدنيا على أهلها قليلها وكثيرها) لأن من لا قناعة له لا يصح له التوكل ومن لا توكل له لا يصح له التسليم اهـ.
فالتوكل هو الثقة بما عند الله واليأس عما في أيدي الناس، فالتسليم هو الانقياد لأمر الله تعالى وترك الإعراض فيما لا يلائم.
(و) المقالة السادسة والثلاثون عن لقمان الحكيم: أنه قال لابنه : يا بني إن الناس ثلاثة أثلاث : ثلث الله، وثلث لنفسه، وثلث للدود، فأما ما هو الله فروحه) فهو راجع الله تعالى (وأما ما هو لنفسه فعمله فهو راجع لنفسه بالنفع والإضرار (وأما ما هو للدود تجسمه فهو مأكول الدود











