Oleh : Ustad Moh. Junaidi Rahman
Artikel, Salam News. Id – Dari Ali bin Abi Talib, semoga Allah meridhainya, diriwayatkan pesan hikmah tentang tiga amalan yang menyehatkan akal manusia. Beliau menyebutkan tiga hal meningkatkan daya ingat serta membantu menghilangkan dahak yang mengganggu keseimbangan tubuh manusia.
Tiga amalan tersebut adalah menggunakan miswak, berpuasa, dan membaca Al-Qur’an secara rutin serta penuh penghayatan mendalam. Dalam tradisi Islam, kebersihan mulut melalui miswak bukan sekadar sunnah, tetapi bagian menjaga kesehatan jasmani.

Miswak membantu menyegarkan mulut, memperlancar peredaran, serta diyakini memperkuat konsentrasi dan ketajaman pikiran seseorang. Puasa juga disebut sebagai sarana membersihkan tubuh dari racun dan menyeimbangkan unsur humor manusia.
Dalam pengobatan klasik, tubuh memiliki empat unsur, yaitu darah, dahak, empedu hitam, dan empedu kuning. Ketidakseimbangan salah satu unsur tersebut dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun kejernihan daya pikir manusia.
Puasa membantu mengurangi kelebihan dahak, sehingga tubuh menjadi ringan dan pikiran lebih fokus. Adapun membaca Al-Qur’an memberi dampak spiritual sekaligus mental yang luar biasa bagi orang beriman.
Bacaan suci itu menenangkan hati, memperluas wawasan, serta memperkuat memori melalui pengulangan ayat. Ketika hati tenang, otak bekerja lebih stabil, sehingga daya ingat meningkat secara alami.
Al-Qur’an juga menghadirkan cahaya batin yang membersihkan kegelisahan serta bisikan negatif dalam diri. Karena itu, ketiga amalan tersebut menyatukan dimensi kesehatan fisik dan kekuatan spiritual sekaligus.
Ka’b al-Ahbar dan Tiga Benteng Keimanan
Ka’b al-Ahbar menyampaikan bahwa ada tiga benteng bagi orang beriman menghadapi godaan setan. Beliau dikenal sebagai ulama yang memeluk Islam pada masa Umar bin al-Khattab. Menurutnya, masjid merupakan benteng pertama bagi jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah.
Di masjid, manusia berkumpul untuk shalat, berdzikir, serta memperkuat ukhuwah dan keimanan bersama. Masjid menjadi tempat turunnya rahmat serta kehadiran malaikat yang menjaga suasana penuh keberkahan.
Benteng kedua adalah mengingat Allah dalam setiap keadaan dan kesempatan kehidupan manusia. Dzikir menghadirkan kesadaran bahwa manusia lemah tanpa pertolongan dan kekuatan dari Allah.
Ungkapan la haula wa la quwwata illa billah menjadi perlindungan ampuh dari bisikan setan. Setan akan mundur ketika mendengar nama Allah disebut dengan keyakinan dan ketulusan hati.
Benteng ketiga adalah membaca Al-Qur’an dengan pemahaman dan penghayatan yang sungguh-sungguh. Ayat-ayat suci menjadi perisai yang melindungi jiwa dari keraguan serta godaan duniawi.
Di antara ayat yang agung adalah Ayat Kursi yang dikenal memiliki keutamaan perlindungan. Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an menjadikan hati kokoh seperti benteng tinggi menghadang musuh. Dengan tiga benteng tersebut, orang beriman memiliki perlindungan lahir dan batin yang kuat.
Hikmah Kemiskinan, Penyakit, dan Kesabaran
Sebagian orang bijak berkata bahwa tiga hal termasuk nikmat tersembunyi dari Allah Ta’ala. Nikmat tersebut bukan berupa harta atau kemewahan, melainkan keadaan yang tampak berat.
Tiga hal itu adalah kemiskinan, penyakit, dan kesabaran dalam menerima ketetapan Ilahi. Kemiskinan mengajarkan manusia untuk tidak bergantung sepenuhnya pada dunia yang fana.
Dalam kekurangan, seseorang belajar tawakal dan merasakan kebutuhan mutlak kepada Allah. Penyakit pun menjadi sarana penghapus dosa serta pengingat akan lemahnya tubuh manusia.
Saat sakit, manusia menyadari keterbatasannya dan kembali mendekat kepada Sang Pencipta. Adapun kesabaran adalah kemampuan menahan diri dari keluhan berlebihan kepada sesama manusia.
Kesabaran berarti menerima takdir tanpa protes yang melahirkan keputusasaan dan penolakan batin. Mengeluh kepada Allah dalam doa berbeda dengan mengeluh karena tidak ridha terhadap takdir.
Ridha adalah menerima keputusan Tuhan dengan hati lapang dan keyakinan penuh hikmah. Keputusan Allah tidak berkurang karena keluhan, tetapi terasa ringan karena penerimaan tulus.
Seorang hamba sejati memahami bahwa segala ketentuan mengandung rahasia kebaikan tersembunyi. Dengan sikap ridha, kemiskinan berubah menjadi kekayaan hati, dan penyakit menjadi cahaya kesadaran.
Kesabaran menjadikan ujian sebagai tangga menuju derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya. Demikianlah tiga rangkaian hikmah yang saling melengkapi antara kesehatan, perlindungan, dan keteguhan jiwa.
Pesan para ulama tersebut mengajarkan keseimbangan antara usaha lahir dan kekuatan batin. Siapa yang menjaga miswak, puasa, dan Al-Qur’an akan kuat ingatan serta bersih hatinya.
Siapa yang memakmurkan masjid, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an akan terlindungi dari godaan. Dan siapa yang sabar dalam kemiskinan serta penyakit akan meraih kedekatan istimewa.(Red/Part.21) Edisi Ramadhan 2026
Refrensi Kajian,
Kitab Nashaihul Ibad
وَعَنْ عَلي كرم الله وجههُ أَنَّهُ قَالَ : ثلاث يَزِدْنَ في الحفظ ويُذْهِبْنَ البلغم السواك، وَالصَّوْمُ، وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ.
وَعَنْ كَعْبِ الأخبار: الحصون للمؤمنين من الشيطان ثلاث: المسجد حضن، وذكر الله حضن، وَقِرَاءَةُ القُرآنِ حضن.
وَعَنْ بَعْضِ الحُكَمَاء أَنَّهُ قَالَ : ثلاث من كَثرَ اللَّهِ تَعَالَى: الفَقْرُ والمرض، والصبر.
(و) المقالة السابعة والثلاثون ( عن علي كرم الله وجهه) ورضي عنه أنه
قال: ثلاث يزدن في الحفظ في الذهن ويذهبن البلغم) وهو أحد الطبائع الأربعة وهي البلغم والدم والسوداء والصفراء السواك والصوم وقراءة القرآن).
(و) المقالة الثامنة والثلاثون عن كعب الأحبار) أي ملجأ العلماء من اليهود أسلم في زمن سيدنا عمر بن الخطاب رضي الله عنه الحصون للمؤمنين من الشيطان ثلاث من الخصال: أي التي تمنع المؤمنين وتحفظهم من الشيطان ثلاث، والحصن هو المكان المرتفع الذي يمنع العدو والحصن أيضاً السلاح كما في الأساس المسجد حصن لأنه محل الذاكرين والملائكة (وذكر الله حصن لا سيما لا حول ولا قوة إلا بالله، فإن الشيطان ينقيض أي يختفي ويتأخر إذا سمع ذكر الله تعالى ( وقراءة القرآن حصن لا سيما آية الكرسي كما هو مجرب.
(و) المقالة التاسعة والثلاثون عن بعض الحكماء أنه قال: ثلاث من كنز الله تعالى) أي مما يدخره الله تعالى لا يعطيها الله إلا من أحبه (الفقر) وهو فقد ما يحتاج إليه (والمرض) وهو يعرض للبدن فيخرجه عن الاعتدال الخاص (والصبر) وهو ترك الشكوى من ألم البلوى لغير الله لا إلى الله تعالى، والرضا بالقضاء لا
يقدح فيه الشكوى إلى الله ولا إلى غيره وإنما يقدح بالرضا في المقضي وإنما لزم الرضا بالقضاء لأن العبد لا بد أن يرضى بحكم سيده، كذا في التعريفات للسيد
علي الجرجاني











