Sumenep, Salam News. Id – Regenerasi kepemimpinan mahasiswa di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum STAIM mendapat perhatian melalui debat Ketua dan Wakil Ketua BEM-KM. Debat kandidat tersebut menjadi bagian rangkaian Musyawarah Besar BEM-KM STAIM yang mempertemukan dua pasangan calon pemimpin organisasi mahasiswa periode mendatang.
Forum tersebut menjadi panggung bagi para kandidat untuk menyampaikan gagasan, visi, misi, sekaligus kesiapan memimpin organisasi mahasiswa secara bertanggung jawab. Mengusung tema kepemimpinan amanah, berintegritas, berlandaskan nilai Islam, kegiatan tersebut diarahkan untuk melahirkan BEM-KM yang progresif dan responsif terhadap mahasiswa.
Debat tidak sekadar menjadi ajang adu argumentasi, tetapi juga menjadi sarana mengukur kapasitas calon menghadapi persoalan mahasiswa secara konkret bersama. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua STAIM Moh. Sholeh, jajaran civitas akademika, panelis, panitia, serta mahasiswa yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tersebut.
Ketua STAIM Moh. Sholeh mengapresiasi pelaksanaan debat kandidat sebagai bagian penting dalam proses demokrasi dan regenerasi kepemimpinan mahasiswa di kampus. Menurutnya, demokrasi kampus harus melahirkan pemimpin yang memiliki kemampuan berorganisasi, integritas, tanggung jawab, serta menjunjung tinggi nilai moral mahasiswa kampus.
Nilai tersebut dinilai penting karena pemimpin mahasiswa memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga organisasi sekaligus memperjuangkan kepentingan bersama secara bijaksana. Sementara itu, Ketua BEM-KM STAIM Ahmad Fadlan Masykuri menegaskan regenerasi merupakan bagian penting untuk memastikan keberlanjutan organisasi mahasiswa kedepannya mendatang.
Ia menilai debat kandidat harus menjadi ruang untuk menguji gagasan calon, bukan sekadar mempertontonkan kemampuan berbicara atau berargumentasi secara objektif. Menurut Ahmad, pemimpin mahasiswa bukan hanya mereka yang memperoleh suara terbanyak, melainkan sosok yang siap menerima amanah dan menjaga integritas.
Pemimpin juga dituntut bekerja untuk kepentingan seluruh mahasiswa, sehingga keputusan organisasi tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan kelompok tertentu kembali. Sejumlah isu strategis kemudian menjadi perhatian dalam debat, mulai dari penyelesaian konflik organisasi hingga penyusunan program kerja awal kepemimpinan mahasiswa.
Para kandidat juga membahas penguatan kolaborasi BEM dengan Himpunan Mahasiswa Prodi serta Unit Kegiatan Mahasiswa di lingkungan kampus secara berkelanjutan. Selain organisasi, budaya literasi mahasiswa turut menjadi pembahasan penting untuk membangun lingkungan akademik yang kritis, produktif, dan berwawasan luas bersama.
Persoalan hubungan mahasiswa dengan pengelola kampus juga menjadi pesan penting yang disampaikan dalam forum debat kandidat tersebut kepada seluruh peserta. Dalam pernyataan penutupnya, Ahmad Fadlan Masykuri mengingatkan BEM memiliki posisi strategis sebagai penyambung aspirasi mahasiswa sekaligus jembatan komunikasi dengan institusi.
Menurutnya, pengurus BEM harus mampu menjadi penengah apabila muncul persoalan antara mahasiswa dengan pengelola kampus melalui dialog konstruktif dan terbuka. Ketika menerima keluhan mahasiswa, proses advokasi harus mengedepankan adab dan etika, sehingga persoalan dapat diselesaikan secara kekeluargaan tanpa tindakan radikal.
Namun, sikap mengutamakan dialog tidak berarti BEM kehilangan keberanian dalam memperjuangkan kepentingan mahasiswa ketika menghadapi kebijakan birokrasi bermasalah secara langsung. Ahmad menegaskan BEM tetap harus kritis apabila terdapat kebijakan birokrasi yang dinilai menyeleweng atau tidak berpihak kepada mahasiswa secara tegas.
Apalagi STAIM diproyeksikan segera bertransformasi menjadi institut, sehingga mahasiswa membutuhkan kepemimpinan organisasi yang semakin matang, kritis, dan bertanggung jawab matang. Pesan tersebut menempatkan BEM bukan sekadar pelaksana program internal, tetapi organisasi yang memiliki tanggung jawab melakukan advokasi dan menjaga komunikasi.
Melalui debat kandidat, mahasiswa diharapkan menentukan pilihan berdasarkan gagasan, kapasitas, integritas, serta keberanian calon menawarkan perubahan bagi organisasi kedepannya kembali.(W/Red)











