Situbondo Salamnews.id Suasana seminar akademik berlangsung dinamis ketika Akademisi Yuda Yuliyanto hadir sebagai narasumber dalam kegiatan seminar bertema “Membangun Ruang Aman di Lingkungan Kampus” yang dirangkaikan dengan bedah buku berjudul “Teori Pengambilan Keputusan dalam Kebijakan Publik”. Kegiatan
tersebut diikuti mahasiswa, serta sejumlah aktivis organisasi kemahasiswaan yang antusias mendiskusikan persoalan lingkungan kampus dan arah kebijakan publik di era modern.
Dalam pemaparannya, Yuda Yuliyanto menekankan bahwa kampus tidak hanya menjadi ruang belajar formal, tetapi juga harus menjadi ruang aman bagi seluruh civitas akademika untuk bertumbuh, berdialog, dan menyampaikan gagasan tanpa rasa takut terhadap intimidasi maupun diskriminasi.

Menurutnya, membangun ruang aman di lingkungan perguruan tinggi merupakan bagian penting dalam menciptakan iklim akademik yang sehat dan produktif. Ia menjelaskan bahwa masih terdapat berbagai tantangan di lingkungan kampus, mulai dari kekerasan verbal, diskriminasi, perundungan, hingga minimnya ruang dialog yang inklusif.
Ruang aman bukan sekadar slogan, tetapi komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan akademik yang menghargai martabat manusia, kebebasan berpikir, dan keberanian menyampaikan pendapat, ujarnya di hadapan peserta seminar.
Selain membahas pentingnya ruang aman di kampus, kegiatan tersebut juga diisi dengan bedah buku karya Yuda Yuliyanto yang berjudul “Teori Pengambilan Keputusan dalam Kebijakan Publik”. Buku tersebut membahas berbagai teori dan pendekatan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik yang diperuntukkan bagi mahasiswa, dosen, praktisi pemerintahan, hingga masyarakat umum yang tertarik pada studi kebijakan publik.
Dalam sesi bedah buku, Yuda menjelaskan bahwa kebijakan publik tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh data, kepentingan politik, kondisi sosial, serta kemampuan pemimpin dalam mengambil keputusan strategis.
Ia juga menyoroti pentingnya generasi muda memahami proses kebijakan publik agar mampu menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Menurutnya, mahasiswa harus didorong menjadi agen perubahan yang tidak hanya kritis, tetapi juga mampu menawarkan gagasan berbasis pengetahuan dan riset ilmiah.
Peserta seminar terlihat aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait implementasi ruang aman di kampus serta relevansi teori pengambilan keputusan dalam kondisi sosial-politik Indonesia saat ini. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat budaya akademik yang inklusif, demokratis, dan berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan.
Seminar dan bedah buku ini sekaligus menunjukkan peran penting akademisi dalam menghadirkan ruang diskusi intelektual yang dekat dengan realitas sosial masyarakat serta tantangan dunia pendidikan tinggi di Indonesia.











