Perbedaan Lebaran hingga 3 Hari, Wajarkah? Ini Penjelasan Ustad Juneid yang Bikin Terang

- Pewarta

Jumat, 20 Maret 2026 - 13:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salam News. Id – Seorang warga mengajukan pertanyaan serius mengenai perbedaan penentuan Hari Raya Idul Fitri yang kerap terjadi di kalangan umat Islam. Ia mempertanyakan apakah perbedaan hingga 3 hari masih tergolong wajar, atau justru menandakan adanya kesalahan dalam penentuan tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Ustad Juneid memberikan penjelasan komprehensif yang bertujuan meluruskan pemahaman masyarakat terkait fenomena perbedaan hari raya. Menurutnya, perbedaan 1 hingga 2 hari dalam penentuan Idul Fitri masih dianggap wajar dalam tradisi keilmuan Islam.

Hal itu disebabkan adanya perbedaan metode penentuan awal bulan Syawal, seperti rukyah atau pengamatan hilal secara langsung. Selain rukyah, terdapat metode hisab, yakni perhitungan astronomi yang digunakan sebagian kalangan dalam menentukan awal bulan Hijriah secara matematis.

Perbedaan tersebut juga dipengaruhi faktor geografis, karena hilal bisa terlihat di satu wilayah namun belum tampak di wilayah lainnya. Tak hanya itu, perbedaan kriteria visibilitas hilal seperti tinggi minimal juga turut memengaruhi hasil penetapan awal Syawal di berbagai daerah.

Dalam kondisi tertentu, perbedaan hingga dua hari masih mungkin terjadi, meskipun tidak selalu menjadi fenomena yang umum setiap tahunnya. Namun, Ustad Juneid menegaskan bahwa perbedaan hingga tiga hari merupakan hal yang tidak lazim dalam praktik keislaman global.

Mayoritas ulama sepakat bahwa batas perbedaan normal penentuan Idul Fitri berkisar antara 1 hingga 2 hari saja. Jika terjadi perbedaan sampai 3 hari, besar kemungkinan terdapat perbedaan metode yang sangat signifikan atau kesalahan penerapan.

Baca Juga :  Mohammad Iksan: Perayaan Hari Jadi Sumenep Harus Lebih Baik

Hal ini bisa terjadi karena ada kelompok yang memulai puasa lebih awal atau mengakhirinya tanpa dasar yang kuat. Kemungkinan lain adalah kesalahan dalam memahami metode hisab atau kekeliruan dalam pelaksanaan rukyah di lapangan secara praktis.

Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menuduh pihak lain salah secara langsung tanpa kajian mendalam. Dalam perbedaan satu hari, hal tersebut termasuk wilayah ijtihad atau perbedaan pendapat yang diakui dalam Islam.

Namun jika perbedaannya terlalu jauh, seperti tiga hari, maka indikasi adanya kekeliruan menjadi lebih kuat secara ilmiah. Secara astronomi, posisi bulan bersifat global, sehingga perbedaan hanya terjadi pada visibilitas, bukan posisi bulan yang berbeda jauh.

Setelah terjadi ijtimak atau konjungsi, hilal membutuhkan waktu tertentu sebelum dapat terlihat oleh pengamat di bumi. Pada hari pertama biasanya hilal belum terlihat, kemudian mulai tampak pada hari kedua di sebagian wilayah dunia.

Memasuki hari ketiga, hilal hampir pasti terlihat jelas di berbagai tempat karena posisinya semakin tinggi dari ufuk. Karena itu, secara logika ilmiah, perbedaan hingga tiga hari dalam penentuan awal Syawal sangat sulit terjadi.

Jika ada wilayah yang masih belum menetapkan Lebaran hingga hari ketiga, hal tersebut dianggap tidak masuk akal.  Dalam ilustrasi sederhana, jika ijtimak terjadi Senin sore, maka Rabu umumnya sudah masuk 1 Syawal di banyak tempat.

Baca Juga :  Viral di Medsos, Sumur Bor di Pragaan Keluarkan Gas Mirip Kompor

Kamis masih bisa ditoleransi sebagai perbedaan satu hari, tetapi Jumat sudah melampaui batas kewajaran secara ilmiah. Ilmu astronomi modern mampu menghitung posisi bulan secara presisi, termasuk kemungkinan terlihatnya hilal dari berbagai lokasi.

Dengan perhitungan tersebut, hampir tidak ada skenario valid yang menunjukkan perbedaan awal bulan hingga tiga hari. Jika hal itu terjadi, biasanya disebabkan perbedaan awal Ramadan yang sudah tidak sama sejak hari pertama puasa dimulai.

Selain itu, penggunaan kriteria yang terlalu longgar atau terlalu ketat juga dapat menyebabkan hasil penentuan berbeda jauh. Kesalahan penerapan metode, baik rukyah maupun hisab, juga menjadi faktor yang memicu terjadinya perbedaan ekstrem tersebut.

Sebagai sikap bijak, umat Islam dianjurkan mengikuti keputusan otoritas resmi di wilayah masing-masing untuk menjaga persatuan. Di Indonesia, keputusan tersebut biasanya ditetapkan melalui sidang isbat oleh pemerintah sebagai rujukan bersama masyarakat luas.

Selain itu, penting untuk menjaga ukhuwah Islamiyah dan tidak mudah menyalahkan pihak lain secara kasar dalam perbedaan. Kesimpulannya, perbedaan satu hari adalah hal wajar, dua hari masih mungkin, tetapi tiga hari menunjukkan adanya kekeliruan. Perbedaan memang bagian dari dinamika Islam, namun tetap harus berada dalam batas logika, ilmu, dan kaidah syariat.(Red)

Berita Terkait

Pemkab Sumenep Perkuat Konektivitas Laut, Perjuangkan Akses Transportasi Kepulauan
Pengiriman Perdana Prancak 95 ke Mitra Djarum Jadi Momentum Kebangkitan Petani Sumenep
Malam Tasyakuran HUT ke-81 RI, Bupati Sumenep Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya Nyata
75 Paskibraka Sumenep Sukses Kawal HUT Ke-81 RI, Pemkab Siapkan Evaluasi dan Penghargaan
RSUD Sumenep Perkuat Komitmen Pelayanan Kesehatan di Momentum HUT ke-81 RI
Pakaian Adat Sulawesi Selatan Warnai HUT ke-81 RI, Bupati Sumenep Tegaskan Makna Keberagaman
Semangat Kemerdekaan, Siswa SMP Plus Miftahul Ulum Antusias Bangun Karakter Generasi Bangsa
HUT ke-81 RI di Sumenep: Bupati Fauzi Tegaskan Kemerdekaan Harus Diisi dengan Karya dan Pengabdian

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 07:59 WIB

Pemkab Sumenep Perkuat Konektivitas Laut, Perjuangkan Akses Transportasi Kepulauan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:49 WIB

Pengiriman Perdana Prancak 95 ke Mitra Djarum Jadi Momentum Kebangkitan Petani Sumenep

Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Malam Tasyakuran HUT ke-81 RI, Bupati Sumenep Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya Nyata

Senin, 17 Agustus 2026 - 21:49 WIB

RSUD Sumenep Perkuat Komitmen Pelayanan Kesehatan di Momentum HUT ke-81 RI

Senin, 17 Agustus 2026 - 21:40 WIB

Pakaian Adat Sulawesi Selatan Warnai HUT ke-81 RI, Bupati Sumenep Tegaskan Makna Keberagaman

Senin, 17 Agustus 2026 - 21:21 WIB

Semangat Kemerdekaan, Siswa SMP Plus Miftahul Ulum Antusias Bangun Karakter Generasi Bangsa

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:04 WIB

HUT ke-81 RI di Sumenep: Bupati Fauzi Tegaskan Kemerdekaan Harus Diisi dengan Karya dan Pengabdian

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Kecamatan Pragaan Gelar Upacara HUT Ke-81 RI, Camat Ajak Warga Perkuat Nasionalisme

Berita Terbaru