Semarang, Salam News. Id – Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang merilis hasil hisab awal bulan menggunakan metode Irsyadul Murid pada Minggu malam resmi. Data hisab tersebut menjadi rujukan penting masyarakat muslim menentukan awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah menjelang perayaan Iduladha mendatang.
Tim falakiyah melakukan penghitungan astronomi berdasarkan posisi matahari dan bulan menggunakan perangkat modern serta dukungan teknologi chatbot terbaru. Lokasi pengamatan berada kawasan Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang dengan koordinat lintang serta bujur tercatat secara lengkap.
Tinggi lokasi pengamatan mencapai tujuh puluh enam meter diatas permukaan laut dengan penyesuaian zona waktu Indonesia bagian barat resmi. Berdasarkan hasil hisab, ijtima akhir bulan Dzulqa’dah 1447 Hijriah terjadi Ahad Wage bertepatan tanggal tujuh belas Mei 2026 dinihari.

Peristiwa ijtima tersebut tercatat berlangsung pukul 03.04.07 waktu daerah berdasarkan hasil pengamatan astronomi resmi tim falakiyah UIN Walisongo Semarang. Menjelang pergantian bulan hijriah, posisi bulan dipastikan memasuki fase Dzulhijjah sehingga menjadi perhatian kalangan masyarakat muslim Indonesia luas.
Data matahari menunjukkan waktu terbenam terjadi pukul 17.29.48 waktu daerah dengan azimut matahari mencapai 289 derajat lebih sedikit. Sementara itu, data bulan memperlihatkan tinggi hilal hakiki mencapai lima derajat lebih sehingga memenuhi ketentuan imkanurrukyat MABIMS regional.
Adapun tinggi hilal mar’i tercatat empat derajat lebih dengan elongasi hampir sepuluh derajat berdasarkan hasil pengamatan astronomi modern terkini. Azimut hilal berada posisi 297 derajat dengan selisih azimut sekitar tujuh derajat dibandingkan arah matahari saat terbenam sore tersebut.
Tim falakiyah juga mencatat umur hilal mencapai empat belas jam lebih setelah terjadinya ijtima akhir bulan Dzulqa’dah 1447 Hijriah resmi. Lama hilal berada diatas ufuk mencapai tiga puluh satu menit sebelum akhirnya terbenam mengikuti posisi matahari kawasan Semarang tersebut.
Data observatorium menunjukkan hilal terbenam pukul 18.01.36 waktu daerah sehingga memungkinkan terlihat menggunakan alat pengamatan modern terkini tersedia. Sementara itu, persentase nurul hilal tercatat mencapai nol koma tujuh empat lima persen berdasarkan penghitungan astronomi metode Irsyadul Murid.
Hasil hisab tersebut menyimpulkan awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah diperkirakan jatuh Senin Kliwon bertepatan tanggal 18 Mei 2026. Tim falakiyah menyatakan posisi hilal telah memenuhi kriteria MABIMS sehingga berpotensi besar ditetapkan sebagai awal bulan Dzulhijjah resmi nasional.
Meski demikian, penetapan resmi pemerintah tetap menunggu pelaksanaan sidang itsbat Kementerian Agama bersama organisasi keagamaan nasional terkait lainnya. Pengumuman hasil hisab tersebut juga menunggu ikhbar resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sebagai pedoman masyarakat muslim Nahdliyin Indonesia luas.
Keberadaan Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang dinilai berperan penting mengembangkan kajian astronomi Islam berbasis teknologi modern terpercaya nasional. Pemanfaatan teknologi chatbot mendukung penyampaian informasi hisab kepada masyarakat agar lebih cepat, akurat, serta mudah dipahami berbagai kalangan pengguna.
Tim observatorium berharap masyarakat tetap menunggu keputusan resmi pemerintah sehingga pelaksanaan ibadah Dzulhijjah berjalan serentak serta penuh kekhusyukan bersama. Masyarakat muslim Indonesia biasanya menjadikan hasil hisab dan rukyat sebagai pedoman menentukan pelaksanaan puasa Arafah serta Hari Raya Iduladha.
Dengan hasil pengamatan tersebut, umat Islam diharapkan mempersiapkan pelaksanaan ibadah Dzulhijjah secara tertib, khusyuk, serta penuh kebersamaan nasional.(Red)











