Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. Style dengan penangan "thickbox" telah dimasukkan ke dalam antrian dengan dependensi yang tidak terdaftar: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/saly4638/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Reformasi Hukum Pidana Belum Tuntas: KUHP–KUHAP Baru Tanpa Perampasan Aset Koruptor

- Pewarta

Rabu, 7 Januari 2026 - 10:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yuda Yuliyanto (Akademisi/Pengamat Kebijakan Publik, Universitas Bondowoso)

Sumenep, Salam News. Id – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan pembaruan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana menandai babak baru reformasi hukum nasional. Kehadiran kedua regulasi tersebut dimaksudkan memperbarui sistem hukum pidana agar lebih adaptif terhadap dinamika sosial masyarakat Indonesia.

Secara normatif, pembaruan KUHP dan KUHAP diarahkan untuk mewujudkan hukum pidana yang humanis dan berkeadilan substantif. Nilai-nilai Pancasila dijadikan fondasi utama dalam merumuskan norma hukum pidana yang lebih kontekstual dan relevan.

Ucapan KPU-HPN 2025

Meski demikian, reformasi hukum pidana tersebut belum sepenuhnya komprehensif karena mengabaikan aspek pemulihan kerugian negara. Hal ini tercermin dari belum disahkannya Undang-Undang tentang Perampasan Aset bagi pelaku tindak pidana korupsi.

Ketiadaan regulasi tersebut menimbulkan ketimpangan antara pembaruan hukum normatif dan efektivitas pemberantasan kejahatan luar biasa. Korupsi sebagai extraordinary crime membutuhkan pendekatan hukum yang lebih progresif dan tidak semata-mata berorientasi pemidanaan.

Baca Juga :  Gerakan Mahasiswa Aktivis Madura Kembali Aksi Turun Jalan Dengan Membawa Beberapa Tuntutan

Secara akademis, hukum pidana tidak hanya berfungsi sebagai sarana represif terhadap pelaku kejahatan. Hukum pidana juga berperan sebagai instrumen rekayasa sosial untuk membentuk perilaku masyarakat yang taat hukum.

Dalam konteks tersebut, KUHP dan KUHAP baru diharapkan mampu menjamin kepastian hukum sekaligus keadilan substantif. Namun, pendekatan pemidanaan konvensional berupa pidana penjara dinilai tidak efektif menekan kejahatan korupsi yang sistemik.

Koruptor tetap dapat menikmati hasil kejahatan meskipun telah menjalani pidana badan dalam lembaga pemasyarakatan. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan efek jera dan daya cegah hukum pidana terhadap pelaku korupsi.

Tanpa perampasan aset, pidana yang dijatuhkan kehilangan makna pemulihan kerugian negara dan keadilan sosial. Tidak adanya Undang-Undang Perampasan Aset Koruptor mencerminkan lemahnya political will pembentuk kebijakan hukum nasional.

Padahal, pemidanaan modern menekankan orientasi restoratif dan preventif, bukan semata-mata pembalasan terhadap pelaku. Perampasan aset hasil kejahatan menjadi instrumen penting untuk memutus mata rantai praktik korupsi yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Camat Rubaru Berharap Study Banding Ke Bandung Bisa Mengembangkan Potensi Desanya

Selain itu, mekanisme tersebut berfungsi mengembalikan hak publik yang telah dirampas melalui tindakan melawan hukum. Tanpa regulasi khusus, negara kesulitan menelusuri dan menyita aset yang disembunyikan melalui skema pencucian uang.

Akibatnya, legitimasi dan kekuatan hukum negara dalam pemberantasan korupsi menjadi tidak optimal. Pemberlakuan KUHP dan KUHAP baru sejatinya harus dipahami sebagai proses reformasi yang belum selesai.

Reformasi hukum pidana akan kehilangan nilai strategis apabila tidak disertai keberanian politik yang konsisten. Pengesahan Undang-Undang Perampasan Aset Koruptor menjadi kebutuhan mendesak dalam sistem hukum nasional.

Tanpa instrumen tersebut, hukum pidana berpotensi lebih melindungi pelaku kejahatan dibandingkan kepentingan publik luas. Oleh karena itu, pembaruan hukum pidana harus diarahkan pada keseimbangan antara kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan sosial.(Red)

Berita Terkait

Harlah ke-66 PMII: Meneguhkan Peran Intelektual, Membangun Peradaban Bangsa
Dosen Muda Luncurkan Buku “Teori Pengambilan Keputusan dalam Kebijakan Publik” untuk Akademisi dan Praktisi
Turnamen Bolavoli Piala Bupati Sumenep 2026 Diserbu 109 Klub, Bukti Bangkitnya Olahraga Daerah
Bupati Fauzi Ajak Kades Solid, Koperasi Merah Putih Jadi Tulang Punggung Ekonomi Desa
DPRD Sumenep Sahkan Tiga Raperda Strategis, Dorong Ekonomi Daerah dan Perkuat BUMD
APTI Sumenep dan PT Djarum Kolaborasi, Bibit Tembakau Unggul Gratis Dongkrak Kesejahteraan Petani
Pemkab Sumenep Resmi Terapkan Penghematan BBM, ASN Wajib Jalan Kaki dan Bersepeda Setiap Jumat
Lampu Jalan Banyak Padam, Fraksi PAN Sumenep Desak Perbaikan PJU Segera Dilakukan

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 15:37 WIB

Harlah ke-66 PMII: Meneguhkan Peran Intelektual, Membangun Peradaban Bangsa

Selasa, 14 April 2026 - 08:33 WIB

Dosen Muda Luncurkan Buku “Teori Pengambilan Keputusan dalam Kebijakan Publik” untuk Akademisi dan Praktisi

Rabu, 8 April 2026 - 17:42 WIB

Turnamen Bolavoli Piala Bupati Sumenep 2026 Diserbu 109 Klub, Bukti Bangkitnya Olahraga Daerah

Selasa, 7 April 2026 - 19:21 WIB

Bupati Fauzi Ajak Kades Solid, Koperasi Merah Putih Jadi Tulang Punggung Ekonomi Desa

Selasa, 7 April 2026 - 19:08 WIB

DPRD Sumenep Sahkan Tiga Raperda Strategis, Dorong Ekonomi Daerah dan Perkuat BUMD

Senin, 6 April 2026 - 14:47 WIB

APTI Sumenep dan PT Djarum Kolaborasi, Bibit Tembakau Unggul Gratis Dongkrak Kesejahteraan Petani

Senin, 6 April 2026 - 10:24 WIB

Pemkab Sumenep Resmi Terapkan Penghematan BBM, ASN Wajib Jalan Kaki dan Bersepeda Setiap Jumat

Jumat, 3 April 2026 - 16:52 WIB

Lampu Jalan Banyak Padam, Fraksi PAN Sumenep Desak Perbaikan PJU Segera Dilakukan

Berita Terbaru