Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. Style dengan penangan "thickbox" telah dimasukkan ke dalam antrian dengan dependensi yang tidak terdaftar: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/saly4638/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Gerhana Bulan Total 2025: Fenomena Langka Terlihat Jelas dari Seluruh Indonesia

- Pewarta

Sabtu, 6 September 2025 - 21:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Salam News. Id – Gerhana Bulan Total akan menghiasi langit Indonesia pada Ahad malam, bertepatan dengan tanggal 15 Rabiul Awal 1447 Hijriah. Peristiwa langit ini bisa disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia karena terjadi saat malam hari telah tiba.

Lembaga Falakiyah PBNU menyebutkan bahwa seluruh wilayah Indonesia berada dalam cakupan pengamatan gerhana bulan kali ini. KH Sirril Wafa, Ketua LF PBNU, menyampaikan hal ini melalui siaran tertulis pada Rabu, 3 September 2025 lalu.

Menurutnya, gerhana terjadi saat Matahari telah lama terbenam di seluruh wilayah Indonesia, sehingga dapat terlihat jelas. Ada tiga zona wilayah yang terkena dampak gerhana ini, masing-masing dengan tingkat visibilitas yang berbeda-beda.

Ucapan KPU-HPN 2025

Zona pertama meliputi Asia, Australia, dan sebagian besar Afrika timur yang dapat menyaksikan seluruh fase gerhana. Zona kedua mencakup Afrika bagian barat dan Eropa, hanya dapat melihat sebagian fase dari gerhana tersebut.

Sedangkan zona ketiga adalah wilayah Amerika yang sama sekali tidak bisa melihat gerhana bulan ini berlangsung. “Hanya daratan benua Amerika yang tidak menjadi bagian dari wilayah gerhana,” kata KH Sirril Wafa menjelaskan.

Baca Juga :  Tahun Ini Dinsos P3A Sumenep Bakal Salurkan Bantuan Hibah untuk 104 Lembaga

Gerhana Bulan terjadi karena sejajarnya posisi Bumi, Bulan, dan Matahari dalam satu garis lurus dari pandangan tiga dimensi. Dalam posisi ini, Bumi berada tepat di antara Bulan dan Matahari, memblokir sinar Matahari menuju Bulan.

Kiai Sirril menyebut bahwa fenomena ini disebut kusuf al-qamar dalam khazanah ilmu falak tradisional Islam. Gerhana ini terjadi bersamaan dengan oposisi Bulan-Matahari (istikbal), di mana Bulan menempati titik nodalnya.

Titik nodal adalah titik perpotongan orbit Bulan dengan ekliptika atau garis edar Bumi terhadap Matahari. Pada saat titik ini dilintasi, dan posisi sejajar tercapai, maka terjadilah gerhana Bulan Total yang indah.

Akibatnya, sinar Matahari yang biasanya menerangi Bulan tertutup sepenuhnya oleh bayangan Bumi di angkasa. Inilah mengapa Bulan yang seharusnya tampak bulat penuh menjadi menghilang perlahan kemudian muncul kembali.

Baca Juga :  Bupati Sumenep Terima Penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya Tingkat Madya

Gerhana Bulan hanya bisa terlihat pada malam hari karena posisi Bulan di langit saat itu berada di belakang Bumi. Kiai Sirril, yang juga dosen Ilmu Falak UIN Jakarta, menambahkan bahwa ukuran Bumi lebih besar dari Bulan.

Karenanya, bayangan Bumi mampu menutupi seluruh permukaan Bulan yang sedang terkena sinar Matahari saat itu. Ia juga menjelaskan bahwa saat gerhana terjadi, posisi Bulan mendekati titik terdekatnya terhadap Bumi (perigee).

Hal ini membuat Bulan tampak sedikit lebih besar dari biasanya ketika gerhana berlangsung di langit malam. Jarak Bulan ke Bumi saat gerhana berkisar dari 361.815 km hingga 361.300 km selama fase gerhana berlangsung.

Itu berarti Bulan lebih dekat dibandingkan rata-rata jaraknya ke Bumi yang biasanya sekitar 376.300 kilometer. “Sehingga yang terjadi adalah Gerhana Bulan Total,” pungkas KH Sirril, menutup penjelasan ilmiahnya yang mendalam.(**/Red)

Berita Terkait

Bupati Fauzi Raih Penghargaan Nasional, Sumenep Bersinar di Dunia Pendidikan
Ning Lia Temui Jamaah Haji Sumenep di Makkah, Titip Pesan Jaga Kesehatan Jelang Armuzna
Wabup Sumenep Tegaskan Harkitnas 2026 Jadi Momentum Bangkitkan Pendidikan dan Desa Mandiri
Tasyakuran SMA NU Sumenep Penuh Haru, Kepala Sekolah Ingatkan Pentingnya Ilmu dan Akhlak
Dukungan Nyata untuk Talenta Muda, Kadisdik Sumenep Apresiasi Karya Syifa
Pelajar Sumenep Bersinar, Dua Lukisan Syifa Diboyong Dirut BPRS Bhakti Sumekar
Skuad Garuda Ditantang Raksasa Asia di Grup F Piala Asia 2027
Hardiknas Jadi Momentum, Cabdin Sumenep Gaungkan Gerakan “Sehari Berbahasa Madura Enggi Bhunten”

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 13:45 WIB

Bupati Fauzi Raih Penghargaan Nasional, Sumenep Bersinar di Dunia Pendidikan

Senin, 25 Mei 2026 - 17:32 WIB

Ning Lia Temui Jamaah Haji Sumenep di Makkah, Titip Pesan Jaga Kesehatan Jelang Armuzna

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:56 WIB

Wabup Sumenep Tegaskan Harkitnas 2026 Jadi Momentum Bangkitkan Pendidikan dan Desa Mandiri

Rabu, 13 Mei 2026 - 10:52 WIB

Tasyakuran SMA NU Sumenep Penuh Haru, Kepala Sekolah Ingatkan Pentingnya Ilmu dan Akhlak

Senin, 11 Mei 2026 - 20:56 WIB

Dukungan Nyata untuk Talenta Muda, Kadisdik Sumenep Apresiasi Karya Syifa

Senin, 11 Mei 2026 - 20:42 WIB

Pelajar Sumenep Bersinar, Dua Lukisan Syifa Diboyong Dirut BPRS Bhakti Sumekar

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:42 WIB

Skuad Garuda Ditantang Raksasa Asia di Grup F Piala Asia 2027

Rabu, 6 Mei 2026 - 19:37 WIB

Hardiknas Jadi Momentum, Cabdin Sumenep Gaungkan Gerakan “Sehari Berbahasa Madura Enggi Bhunten”

Berita Terbaru