Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. Style dengan penangan "thickbox" telah dimasukkan ke dalam antrian dengan dependensi yang tidak terdaftar: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/saly4638/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Sidang Isbat Dinanti, Perbedaan Idulfitri Disikapi dengan Kedewasaan

- Pewarta

Rabu, 18 Maret 2026 - 14:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini. Salam News. Id – Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri kembali menjadi perhatian umat Islam di Indonesia menjelang akhir bulan suci Ramadan tahun ini.Fenomena ini terjadi akibat adanya perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah, yaitu antara penggunaan hisab dan rukyat oleh berbagai pihak.

Sebagian organisasi Islam menggunakan metode hisab, sementara lainnya tetap berpegang pada rukyat atau pengamatan langsung hilal di lapangan. Kondisi tersebut memunculkan potensi perbedaan hari pelaksanaan Idulfitri yang kerap terjadi hampir setiap tahun di Indonesia.

Menyikapi hal tersebut, para ulama mengimbau umat Islam untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh perbedaan yang ada. Umat Islam dianjurkan mengikuti keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah atau organisasi keagamaan yang selama ini diikuti masing-masing.

Ucapan KPU-HPN 2025

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keteraturan pelaksanaan ibadah serta menghindari kebingungan di tengah masyarakat luas saat merayakan Idulfitri. Selain itu, sikap saling menghormati antar sesama umat Islam menjadi hal utama dalam menghadapi perbedaan penentuan Hari Raya Idulfitri.

Baca Juga :  Mengendalikan Nafsu, Memperbaiki Diri: Hikmah dalam Mengenal Allah

Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah bukanlah hal baru, melainkan sudah berlangsung sejak masa para ulama terdahulu. Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai sumber konflik atau perpecahan dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Para tokoh agama menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman pandangan dalam menentukan awal Syawal setiap tahunnya. Mereka juga mengingatkan bahwa perbedaan tersebut memiliki dasar ilmiah dan syariat yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk saling menyalahkan atau merendahkan pihak lain yang memiliki pandangan berbeda. Dalam praktiknya, masyarakat yang tinggal dalam satu lingkungan dianjurkan menyesuaikan diri demi menjaga keharmonisan bersama.

Hal ini penting agar pelaksanaan ibadah dan perayaan Idulfitri dapat berlangsung dengan damai serta penuh kebersamaan antar warga. Salah satu tokoh agama, Ustad Junaidi, menyampaikan pentingnya kedewasaan umat dalam menyikapi perbedaan tersebut.

Ia menegaskan bahwa perbedaan penentuan Idulfitri merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam yang harus dihargai bersama. Menurutnya, umat Islam seharusnya lebih mengedepankan persatuan dibanding memperdebatkan perbedaan yang memiliki dasar kuat masing-masing pihak.

Baca Juga :  Pemerintah Tetapkan 1 Zulhijah 1446 H Jatuh pada 28 Mei 2025, Idul Adha Dirayakan 6 Juni

Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap menjaga hubungan baik antar sesama meskipun terdapat perbedaan dalam penentuan hari raya. Selain menjaga persatuan, umat Islam diminta untuk lebih fokus pada peningkatan kualitas ibadah di penghujung bulan Ramadan.

Momentum Idulfitri seharusnya dimaknai sebagai waktu untuk kembali kepada kesucian serta memperbaiki hubungan antar sesama manusia. Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat sebagai penentu resmi awal bulan Syawal di Indonesia.

Hasil sidang tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bersama bagi umat Islam dalam menentukan waktu pelaksanaan Idulfitri. Dengan sikap bijak dan saling menghormati, perbedaan penetapan Idulfitri diharapkan tidak mengurangi makna kebersamaan umat Islam.

Akhirnya, Idulfitri menjadi momentum mempererat persatuan, memperkuat toleransi, serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.(Red)

Berita Terkait

Sambut 1 Muharram 1448 H, Bupati Fauzi Ajak ASN dan Masyarakat Perkuat Kepedulian Sosial
Bolehkah Menyebut Almarhum? Ini Penjelasan Menyejukkan dari Syekh Ibn Utsaimin
Doa Setelah Shalat Wajib Boleh Dilantangkan? Simak Penjelasan Ulama dan Hadis Sahih
Hasil Hisab UIN Walisongo: Awal Dzulhijjah 1447 H Diperkirakan Jatuh 18 Mei 2026
Tradisi Jabat Tangan Selepas Salat Jadi Sorotan, Ulama Beri Penjelasan Bijak
Qunut Subuh antara Sunnah dan Perbedaan Ijtihad, Ini Dasar Hadisnya
LF PBNU Rilis Hisab Hilal Dzulhijjah 1447 H, Peluang Idul Adha Akhir Mei Semakin Kuat
Wabup Imam Hasyim Lepas Jamaah Haji Sumenep, Ribuan Keluarga Padati GOR Pangligur

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 17:53 WIB

Sambut 1 Muharram 1448 H, Bupati Fauzi Ajak ASN dan Masyarakat Perkuat Kepedulian Sosial

Minggu, 31 Mei 2026 - 11:21 WIB

Bolehkah Menyebut Almarhum? Ini Penjelasan Menyejukkan dari Syekh Ibn Utsaimin

Selasa, 19 Mei 2026 - 12:24 WIB

Doa Setelah Shalat Wajib Boleh Dilantangkan? Simak Penjelasan Ulama dan Hadis Sahih

Senin, 18 Mei 2026 - 11:22 WIB

Hasil Hisab UIN Walisongo: Awal Dzulhijjah 1447 H Diperkirakan Jatuh 18 Mei 2026

Jumat, 15 Mei 2026 - 10:32 WIB

Tradisi Jabat Tangan Selepas Salat Jadi Sorotan, Ulama Beri Penjelasan Bijak

Jumat, 15 Mei 2026 - 09:14 WIB

Qunut Subuh antara Sunnah dan Perbedaan Ijtihad, Ini Dasar Hadisnya

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:29 WIB

LF PBNU Rilis Hisab Hilal Dzulhijjah 1447 H, Peluang Idul Adha Akhir Mei Semakin Kuat

Senin, 11 Mei 2026 - 21:15 WIB

Wabup Imam Hasyim Lepas Jamaah Haji Sumenep, Ribuan Keluarga Padati GOR Pangligur

Berita Terbaru